Categories
Artikel Berita

#26 Jangan Suudhon (Prasangka Buruk)

Jangan Suudhon (Prasangka Buruk)

Disampaikan oleh Dr. H. S. Arifin, M.Pd beliau adalah SMAN Jogoroto Jombang dan Ketua MGMP PAI SMA Provinsi Jawa Timur

Categories
Artikel Berita

#25 3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an

“3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an”

 

Disampaikan oleh Ust. Musholim Thohir, S.Ag, dari SMK PGRI Lumajang

 

 

 

 

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/3-golongan-yang-mau-mengamalkan-al-quran/

Categories
Berita Download Pengumuman

PENGUMUMAN PENERBITAN SURAT KETERANGAN LULUS (SKL) 2020

Diberitahukan kepada siswa kelas 12 SMK AL HUDA GROGOL yang dinyatakan LULUS, maka dengan ini Surat Keterangan Lulus (SKL) dapat di download melalui link SURAT KETERANGAN LULUS (SKL) 2020.

 

Categories
Artikel Berita

#23 MALAM SERIBU BULAN

MALAM SERIBU BULAN

 

 

Abdul Muis
Guru PAI SMA Negeri 1 Yosowilangun
Founder KLIK MEDIA INDONESIA

 

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Satu lagi keisitimewaan Ramadhan yang tidak ada di sebelas bulan yang lain, lailatul qadar atau malam qadar. Konon, Allah menyebutkan bahwa malam qadar ini lebih baik dari seribu bulan. Ada banyak sekali limpahan keberkahan dan anugerah yang diturnkan Allah melalui para malaikat-Nya di malam yang mulia ini.

Selain malam qadar, di bulan Ramadhan Allah juga menurunkan Alquran. Kitab terakhir ini diturunkan oleh Allah dan dijelaskan-Nya dalam empat surat berbeda. Sebagai bukti nyata bahwa dalam Ramadhan, ada malam nuzul Alquran, disamping malam qadar. Pertama, dalam Qs. Alqadr itu sendiri.

Kedua, dalam Qs. Ad-Dukhan/44:1-6. Allah menyebutkan “Haa miim. Demi Kitab (Alquran) yang jelas, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Ketiga, dalam Qs. Albaqarah/2: 185, yaitu pada firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَان

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).

Keempat, dalam Qs. al-Anfal/8: 41.

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   ٤١

Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Qs. Alqadr menyatakan bahwa turunnya Alquran dari Lauhul Mahfuz ke Baitul-‘Izzah jelas pada malam qadr. Qs. Ad-Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkahi itu, kemudian Qs. Albaqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan.

Sedangkan Qs. al-Anfal/8: 41 menerangkan penyelesaian pembagian rampasan perang pada Perang Badar. Perang ini disebut yaumul-furqan karena merupakan pertempuran antara tentara Islam dengan tentara kafir, di mana kemenangan berada di tangan tentara Islam.

Dalam ayat ini diungkapkan bahwa Allah menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi Saw pada malam yang mulia. Kemudian diturunkan terus-menerus secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih, sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Sehubungan dengan uraian di atas, para ulama mengatakan bahwa kata anzala dan nazzala berbeda penggunaan dan maknanya. Oleh sebab itu, makna anzalnahu dalam Qs. Alqadr menunjukkan turunnya kitab suci Alquran pertama kali dan sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Kemudian diturunkan berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad Saw., yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Sedangkan makna nazzala bermakna diturunkan berangsur-angsur.

Tidak diragukan lagi bahwa semua kita kini sangat memerlukan Alquran sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang meragukan dalam hal-hal yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi. Alquran juga menerangkan kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari kebangkitan.

Manusia memerlukan pegangan tersebut karena tanpanya, mereka tidak dapat memahami prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya untuk membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang. Oleh sebab itu, benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mengetahui secara ilmiah keadaan dan khasiat sesuatu.

Pada surat ini Allah juga menyatakan keutamaan lailatul qadr yang tidak dapat diketahui oleh para ulama dan ilmuwan, bagaimanapun tingginya ilmu pengetahuan mereka. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu. Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada menjadi ada.

Pada ayat ketiga, Allah menerangkan keutamaan lailatul qadr yang sebenarnya. Malam itu adalah suatu malam yang memancarkan cahaya hidayah sebagai permulaan tasyr‘ yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam itu juga sebagai peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan mereka sepanjang zaman.

Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa kemusyrikan dan kesesatan yang tidak berkesudahan. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Sebutan kata “seribu” dalam ayat ini tidak bermaksud untuk menentukan bilangannya. Akan tetapi, maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah berikut.

يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍ

Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun. (Albaqarah/2: 96)

Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya mulai diturunkan cahaya hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya mereka berada dalam kesesatan dan kekufuran?.

Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Muhammad Saw. yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh manusia, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan dan penindasan penguasa yang zalim di timur dan barat, dan mempersatukan mereka sesudah berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?

Maka seyogyanya semua kita sejatinya menjadikan malam tersebut sebagai hari raya, karena malam itu merupakan waktu turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat. Penurunan ini juga memperbaharui janji manusia dengan Tuhan yang berhubungan dengan jiwa dan harta sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.

Adapun pada ayat ke empat, Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam lailatul qadr, yaitu turunnya para malaikat bersama Jibril dari alam malaikat sehingga tampak oleh Nabi Saw, terutama Jibril yang menyampaikan wahyu.

Penampakan Jibril kepada Nabi Saw dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah, setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebajikan dan keberkahan.

Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya. Kita cukup beriman saja dengannya. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanya sedikit sekali, sebagaimana diterangkan dalam Alquran.

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit. (al-Isra’/17: 85).

Malam itu (lailatul qadr) adalah hari raya umat Islam karena merupakan waktu turunnya Alquran dan malam bersyukur kepada Allah atas kebajikan serta kenikmatan yang dikaruniakan-Nya kepada semua kita. Pada saat itu, malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam qadr, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Di antara tanda-tanda lailatul qadr adalah matahari terbit tanpa sinarnya yang memancar. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menjelaskan tentang lailatul qadr.

(لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ، لاَ حَارَّةٌ وَلاَ باَرِدَةٌ، تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيْحَتَهَا صَفِيْقَةً حَمْرَاءَ. (رواه أبو داود

Lailatul qadr adalah malam yang tenang dan cerah, tidak panas dan tidak dingin, serta matahari pada pagi harinya berwarna merah terang. (HR. Abµ Dawud).

Dalam ayat berikutnya, Allah menyatakan bahwa malam qadr dipenuhi kebajikan dan keberkahan dari permulaan sampai terbit fajar, karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk serta bimbingan kepada umatnya.

Lalu kapankah kita dapat bertemu dan menjumpai malam yang mulia ini?.

Dapatkah kita bertemua dengannya?.

Usaha apa yang dapat kita lakukan untuk bertemu dengan malam yang diliputi dengan kebaikan, kebajikan dan anugerah-Nya ini?.

Di manakah kita dapat menemuinya?.

Tak ada seorangpun dari kita yang tak ingin bertemu dengan malam qadr. Setiap kita, pasti ingin bertemu dengan malam yang di dalamnya Allah menurunkan malaikat, untuk mendoakan, mengamini setiap permohonan dan harapan yang dipanjatkan.

Berkaitan dengan kapan malam qadr itu akan datang, tak ada yang dapat memastikan kapan manusia dapat bertemu dengannya. Namun, beberapa hadits berikut dapat kita jadikan acuan, bagian dari ikhtiar kita bertemua dengan lailatul qadr. Kewajiban kita adalah ikhtiar, hasil dan maksud yang diharapkan biarkan Allah yang menentukan.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ وَكَانُوا لَا يَزَالُونَ يَقُصُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا أَنَّهَا فِي اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

Maka Nabi Saw. bersabda: “Sungguh ‘Abdullah menjadi orang yang paling berbahagia jika mau shalat malam”. ‘Abdullah RA. adalah orang yang seantiasa mendirikan shalat malam sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi Saw. tentang mimpi-mimpi mereka bahwa pelaksanaan lailatul qadr terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi Saw. bersabda: “Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar bahwa lailatul qadr terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencari lailatul qadr, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Ramadhan). (HR. Bukhari. Hadits No. 1088).

Pada hadits ini, Rasulullah memberikan indikator kepada semua kita jika ingin bertemu dengan malam qadr. Beliau menyebutkan bahwa malam qadr dapat kita cara pada sepuluh malam terakhir di bulan suci, bulan Ramadhan. Beliau juga tidak menyebutkan secara rinci, diantara sepuluh malam itu, dimanakah letak malam qadr, beliau tidak menyebutkan rinci.

Logikanya, di sepuluh malam terakhir ini, kita diharapkan semakin taqarrub ilallah. Meningkatkan ibadah kepada-Nya, memenuhi sepuluh malam terakhir dengan ibadah-ibadah sunnah, sehingga apa yang kita lakukan dapat menjadi bagian dari ikhtiar kita bertemu dengan malam seribu bulan.

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam lailatul qadr.” Ubay berkata, “Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadhan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim. Hadits No. 1272).

Semakin ke sini, kita akan terasa semakin dengan malam seribu bulan. Ada banyak sekali tuturan Rasulullah terkait dengan malam yang mulia ini. Pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di atas, semakin memberikan gambaran jelas kepada kita bahwa, malam yang mulia itu dapat kita temui di malam ke dua puluh tujuh bulan Ramadhan.

Indikator penyebutan malam ke dua puluh tujuh ini antara lain adalah terbitnya matahari pada pagi hari dengan sinar berwarna putih yang tidak menyorot. Pada riwayat yang lain juga disebutkan bahwa pada hari itu (malam itu) tidak terasa panas tidak pula terasa dingin. Cuaca yang terjadi di malam mulia itu sangat bersahabat dengan manusia, nyaman dan tak dapat diwakili dengan kata-kata.

Riwayat lain menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Lalu datanglah Jibril dan berkata kepada beliau bahwa apa yang secang dicari ada di hadapannya (malam berikutnya). Lalu Rasulullah pun melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam pertengahannya. Kemudian Jibril datang lagi dan mengatakan hal yang sama. Kemudian Rasulullah berdiri dan memberi khutbah pada pagi harinya, hari ke dua puluh bulan Ramadhan.

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ وَإِنِّي رَأَيْتُ كَأَنِّي أَسْجُدُ فِي طِينٍ وَمَاءٍ

“Barangsiapa sudah beri’tikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka pulanglah, karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Namun dia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air” (HR. Bukhari. Hadits No. 771).

Saat itu atap masjid terbuat dari daun dan pelepah kurma. Para sahabat yang datang, tidak melihat apapun di atas langit, hingga kemudian datanglah awan dan turun hujan.

Pada hadits yang lain Rasulullah menyebutkan bahwa malam qadr terdapat pada malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Bahwa Rasulullah: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan” (HR. Bukhari. Hadits No. 1878).

Bahkan lebih rinci ada pula tuturan Rasulullah mengenai malam seribu bulan ini.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى تَابَعَهُ عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ

Nabi Saw bersabda: berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari ‘Aisyah dari Nabi Saw: “Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan, pada sisa malam kesembilan, pada yang ketujuh, pada yang kelima”. (HR. Bukhari. Hadits No. 1881).

Malam ganjil yang disebutkan Rasulullah pada hadits sebelumnya, diperkuat lagi dengan hadits ini bahwa malam qadr itu dapat ditemui di malam ke dua puluh sembilan, malam ke dua puluh tujuh dan malam ke dua puluh lima di bulan Ramadhan.

Kini, agakya telah jelas bagi kita, kapan, di mana dan dalam keadaan yang bagaimana semua kita dapat berjumpa dengan malam qadr. Rasulullah telah memberikan rambu-rambu kepada kita, mulai dari yang bersifat umum, hingga terinci waktunya. Sepuluh malam terakhir, malam ganjil, hingga disebutkan malam ke dua puluh lima, dua puluh tujuh dan dua puluh sembilan.

Selain itu, tuturan Rasulullah juga mengabarkan kepada kita bahwa saat itu, pagi hari matahari akan bersinar dengan cahaya putih yang tidak memancarkan panas, cuaca saat itu tidak panas tidak pula dingin. Adapula gambaran bahwa malam itu turun hujan sehingga Rasulullah sujud di atas tanah yang basah.

Kini, indikator itu telah jelas dan nampak nyata bagi kita. Tinggal bagaiman kesungguhan dan ikhitar setiap kita untuk mendapatkannya. I’tikaf yang dilakukan di masjid, langgar, musholla, surau dan sebagainya, adalah bagian dari ikhtiar nyata untuk bertemu dengan malam seribu bulan.

Hendaknya, semua ikhtiar itu didasari atas satu pondasi kokoh, bahwa semua yang dilakukan semata hanya karena Allah, bukan yang lain dan tidak ada yang lain. Muara dari semuanya hanya Allah.

Ibadah yang kita lakukan untuk bertemu dengan malam seribu bulan, adalah bukti nyata bahwa kita membutuhkan-Nya.

Bahwa kehidupan yang kita jalani tak akan berarti apa-apa tanpa kuasa-Nya.

Bahwa kehendak-Nya kepada semua kita bersifat mutlak. Kewajiban kita hanyalah ikhitar dan doa.

Bahwa ibadah kita, hidup dan mati kita, semua ada dalam kuasa-Nya.

Lalu hasilnya, semua ditentukan oleh-Nya.

Categories
Artikel Berita

#22 Pentingnya Mencari Ilmu

Pentingnya Mencari Ilmu

 

 

Disampaikan oleh Dr. Mukhamad Samsu, M.Pd.I, beliau adalah Kepala SMAN 1 Sugih Waras Kabupaten Bojonegoro

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/pentingnya-mencari-ilmu/

Categories
Artikel Berita

#21 ISLAM NUSANTARA Sebagai MERCUSUAR PERADABAN ISLAM DUNIA

ISLAM NUSANTARA Sebagai MERCUSUAR PERADABAN ISLAM DUNIA

Categories
Artikel Berita

#20 GENERASI MILENIAL MENUJU GENERASI BERMARTABAT

TA’LIMUL MUTA’ALLIM GENERASI MILENIAL MENUJU GENERASI BERMARTABAT

 

 

Disampaikan oleh Hj. Maslachah, M.Pd, beliau adalah Guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Patianrowo Nganjuk.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/talimul-mutaallim-generasi-milenial-menuju-generasi-bermartabat/

Categories
Artikel Berita

#19 BANGKIT dari KEMALASAN

BANGKIT dari KEMALASAN

 

Disampaikan oleh Dra. Rusniati Betta beliau adalah Guru Pendidikan Agama Islam di  SMA Negeri 2 Surabaya

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/bangkit-dari-kemalasan/

Categories
Artikel Berita

#18 Mempersiapkan Generasi Mandiri

Mempersiapkan Generasi Mandiri

Oleh: Dr. Mokhamad Samsu, M.Pd.I

Kepala SMAN 1 Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro

“Dan orang-orang yang berkata: “YaTuhan kami,anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan:74)

Agama Islam adalah agama yang sempurna karena memiliki tuntunan yang dengan sangat rinci mengatur segala sisi kehidupan manusia dan senantiasa menganjurkan umatnya untuk menjalin hubungan baik dengan sesama maupun dengan alam sekitarnya. Sesuai kodratnya sebagai makhluk sosial, sepanjang hidupnya seorang manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan kehadiran orang lain, misalnya keluarga.

Keluarga dalam Islam merupakan rumah tangga yang dibangun dari suatu pernikahan antara seorang pria dan wanita yang dilaksanakan sesuai syariat agama Islam dan harus memenuhi syarat serta rukun nikah. Pernikahan merupakan tahapan awal dalam membangun rumah tangga Islam menuju keluarga sakinah, mawaddah dan warahmah.  Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini :

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs.Ar-Ruum : 21)

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk memperoleh keturunan, yang kelak akan menjadi generasi baru yang diharapkan menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Oleh sebab itu, sebuah pernikahan harus dipersiapkan secara matang karena secara tidak langsung pernikahan merupakan tahap awal pembentukan sebuah generasi baru.

Sebuah keluarga, yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak,  adalah lembaga terkecil dalam masyarakat di mana seseorang tumbuh dan mendapatkan pendidikan yang pertama dan utama dari orang tuanya agar kelak bisa menjalankan kehidupannya sendiri,  baik kehidupan sebagai pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Pendidikan yang didapatkan dalam keluarga kelak akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pribadi dan kemampuan seseorang dalam menjalani hidupnya.

Ayah adalah pemimpin dalam keluarga, yang berkewajiban membimbing seluruh anggota keluarganya untuk meraih ridho Allah SWT.  Peran ibu tidak kalah pentingnya.  Ibaratnya, ibu adalah madrasah pertama bagi seorang anak yang lahir dalam sebuah keluarga. Sebaliknya, anak adalah amanah yang diberikan Allah kepada hambaNya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya ayah dan ibu (orang tua) memperlakukan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya karena kelak dia pasti dimintai pertanggungjawaban atas amanah tersebut.

Seorang pakar parenting, Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari1, menyatakan tugas setiap orang tua pada dasarnya adalah menyiapkan anaknya agar bisa mandiri sehingga suatu saat mereka siap jika harus berpisah dari orang tuanya (misalnya saat sekolah, melanjutkan pendidikan ke luar kota, menikah atau saat orang tua meninggal).  Orang tua wajib menyadari bahwa masa itu pasti akan tiba dan tidak mungkin dihindari atau dielakkan.  Oleh sebab itu mempersiapkan kemandirian seorang anak juga merupakan suatu hal yang harus dipersiapkan secara matang.

Kemandirian seorang anak tidak datang dengan sendirinya. Butuh bimbingan dan komitmen kuat dari orang tua agar bisa menyiapkan generasi mandiri. Generasi madiri yang dimaksud di sini adalah generasi yang tangguh dalam menjalani kehidupan dengan atau tanpa kehadiran orang tua,  generasi yang tidak hanya mampu bertahan hidup tapi juga mampu membuat keputusan-keputusan yang penting bagi hidupnya, generasi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan dan berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sekitarnya juga generasi yang senantiasa berusaha mengkondisikan dirinya untuk melaksakanan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua laranganNya.

Pada kenyataannya, tidak sedikit orang tua yang terjebak pada rasa cinta yang membabi buta pada anaknya sehingga tanpa sadar telah menunjukka rasa cintanya dengan cara yang salah.  Atas nama cinta, banyak terjadi kasus orang tua yang mengabaikan tahap perkembangan yang seharusnya dilalui seorang anak untuk mencapai tahap kedewasaan (maturity).  Mulai dari belajar melakukan hal paling remeh hingga rumit, misalnya makan, berpakaian, menyiapkan keperluan pribadi, bersosialisasi dalam lingkungan, dan bahkan membuat keputusan penting bagi kebaikan dirinya.  Semua itu membutuhkan proses panjang hingga bisa mencapai tahapan yang diharapkan. Tanpa pemberian kesempatan, maka bisa dikatakan bahwa orang tua telah merampas kesempatan seorang anak untuk tumbuh dewasa dan mandiri.  Bukan cinta dan sayang namanya jika perwujudannya justru membunuh dan menghancurkan anak secara perlahan.

Adapun peran keluarga dalam menyiapkan generasi mandiri antara lain:

  1. Menanamkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti luhur

Nilai-nilai akhlak dan budi pekerti yang luhur akan menjadi pondasi kuat bagi seorang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bertanggung jawab serta mandiri.

  1. Memberikan teladan dan kesempatan kepada anak untuk menjalani tahap perkembangannya secara alami,

Orang tua harus berbesar hati memberikan teladan dan kesempatan kepada anak untuk menjalani tahap perkembangannya secara alami, tanpa harus ditahan atau sebaliknya dipaksa lebih cepat dari yang seharusnya. Teladan dan kesempatan tersebut merupakan bekal yang sangat penting bagi seorang anak untuk menjalani hidupnya sendiri kelak.  Perlu diingat bahwa bekal yang yang dibutuhkan seorang anak pada dasarnya bukan hanya keterampilan untuk menghasilkan materi saja, tetapi juga keterampilan untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan.

Bisa dimulai dalam keseharian misalnya anak diberi kesempatan makan bersama orang tuanya, agar bisa meneladani bagaimana seharusnya makan yang diawali dengan berdoa, tanpa bicara selama makan, dengan rapi tanpa berceceran, makan dengan penuh rasa bersyukur,dll.

  1. Memberikan pendampingan dan rasa nyaman

Anak harus dipahamkan bahwa semua tahapan yang harus dilalui dalam rangka meraih kemandirian adalah semata-mata demi kebaikan anak sendiri. Kemandirian adalah tanda telah diraihnya kedewasaan diri.

  1. Memberikan tanggung jawab pada anak untuk melakukan suatu kewajiban keseharianbeserta konsekuensi jika tanggung jawab tersebut tidak dilaksanakan.

Misalnya, setelah selesai belajar maka anak harus membereskan peralatan sekolahnya. Jika ternyata hal tersebut tidak dilakukan maka orang tua tidak perlu buru-buru turun tangan jika misalnya ada peralatan sekolah yang tertinggal di rumah pada saat jam sekolah. Tergopoh gopoh mengantarkan peralatan sekolah yang tertinggal bisa jadi suatu perwujudan cinta, tapi sayangnya hal tersebut akan membuat anak gagal memahami sebuah kesalahan. Biarkan saja anak belajar menerima konsekuensi dari keteledorannya dan kemudian mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.

Semoga ikhtiar yang bisa kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah SWT dan semoga keturunan kita kelak akan menjadi penyenang hati orang tuanya.  Aamiin.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/mempersiapkan-generasi-mandiri/

Categories
Artikel Berita

#16 PUASA DAN KESALIHAN SOSIAL

PUASA DAN KESALIHAN SOSIAL

Abdul Muis, M.Pd.I     

GPAI SMA Negeri 1 Yosowilangun

Kisah sahabat Nabi, Abu Dujanah, adalah kisah nyata seorang hamba yang taat, yang lebih menjaga perasaan tetangganya, dibandingkan dirinya sendiri dan bahkan keluarganya. Abu Dujanah sangat paham bahwa ia dan keluarganya tak mau jatih pada kehinaan dan dosa karena berselisih dengan tetangganya hanya masalah sebiji kurma.

Abu Dujanah bahkan rela lebih memilih mengeluarkan buah kurma yang telah dimasukkan ke dalam mulut anaknya kerana lapar, dibandingkan ia dan seluruh keluarganya berselisih dengan tetangganya, melahirkan dosa dan permusuhan, hingga kemudian mendapat hukuman dari Allah kelak. Abu Dujanah rela anaknya dan seluruh anggota keluarganya kelaparan.

Di sisi lain, ia juga tak mau ketinggalan berjamaah subuh bersama Rasulullah setia hari. Maka ketika ia buru-buru meninggalkan masjid sesaat setelah shalat selesai, tak lain tujuannya adalah untuk menyelamatkan dirinya, anak-anaknya, juga keluarganya, dari kemunafikan tetangganya, pemilik pohon kurma.

Ibadah yang dilakukan Abu Dujanah, disamping melahirkan kesalihan individual, juga mengandung nilai-nilai sosial. Sikap memuliakan tetangga yang dilakukan Abu Dujanah adalah perilaku yang lahir dari dalam dirinya karena ketaatannya kepada Allah. Disamping ia salih secara individual (dengan taat beribadah, sayang pada keluarga), ia juga salih secara sosial (tidak mau berselisih dengan tetangga).

Puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, sejatinya adalah latihan diri dan penempaan diri dalam rangka melahirkan kesalihan secara sosial (setelah salih individual). Puasa harusnya mampu menjadikan kita lebih baik, lebih peduli, lebih toleran, lebih mampu mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dengan kepentingan diri sendiri.

Semua kita tentu ingat dengan kisah sahabat Umar, ketika ia bergegas pergi ke masjid untuk shalat berjamaah bersama Rasulullah. Dalam perjalanan, ia melihat seorang tua yang berjalan pelan sekali. Sebagai bentuk hormat Umar kepadanya, ia tak mendahului orang tua itu dan lebih memilih berjalan di belakangnya, padahal iqamah telah terdengar dan shalat akan segera dimulai.

Apa yang dilakukan Umar adalah salah satu bentuk kesalihan sosial. Salih individual lalu akan dengan sendirinya melahirkan kesalihan sosial.

Mari kita kaji salah satu ayat dalam Alquran, yang mengajarkan kepada kita bagaimana seseorang harus salih individual terlebih dahulu, barulah kemudian salih secara sosial.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ۩ ٧٧

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”.

Dalam tafsir versi Kemenag, dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar melakukan setidaknya tiga hal berikut.

Pertama, mengerjakan salat pada waktu-waktu yang telah ditentukan, lengkap dengan syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Pada ayat ini salat disebut dengan “ruku`” dan “sujud”, karena ruku` dan sujud itu merupakan ciri khas dari salat dan termasuk dalam rukun-rukunnya.

Kedua, menghambakan diri, bertobat kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya merupakan perwujudan dari keimanan di hati sanubari yang telah merasakan kebesaran, kekuasaan dan keagungan Allah, karena diri manusia sangat tergantung kepada-Nya. Hanya Dialah yang menciptakan, memelihara kelangsungan hidup dan mengatur seluruh makhluk-Nya. Beribadah kepada Tuhan ada yang dilakukan secara langsung, seperti salat, puasa bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan menunaikan ibadah haji. Ada pula ibadah yang dilakukan tidak secara langsung, seperti berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong, mengolah alam yang diciptakan Allah untuk kepentingan manusia.

Ketiga, mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti memperkuat hubungan silaturrahmi, berbudi pekerti yang baik, hormat menghormati, kasih-mengasihi sesama manusia. Termasuk melaksanakan perintah Allah.

Jika manusia mengerjakan tiga macam perintah di atas, maka mereka akan berhasil dalam kehidupan memperoleh kebahagiaan ketentraman hidup, dan di akhirat mereka akan memperoleh surga yang penuh kenikmatan.

Ayat berikutnya menjelaskan lebih luas.

هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ࣖ ۔ ٧٨

… Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah salat; tunaikanlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong (Qs. Al-Hajj/22: 78).

Attabiq Lutfi menyebutkan bahwa, pada ayat ini, Allah memberikan perintah kepada kita orang yang beriman, agar mampu membangun kesalihan personal dan sosial secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah. Sedangkan “berbuat kebaikan” merupakan indikasi kesalihan sosial.

Salih sosial lahir setelah seseorang mampu salih secara personal (individual). Puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan selama sebulan penuh, sejatinya mengajarkan kepada kita bagaimana beratnya perjuangan hidup. Semua kita akan merasakan perihnya lapar dan haus. Apa yang selama ini dialami oleh saudara-saudara kita yang setiap hari selalu berusaha untuk sekadar bertahan hidup mencari sesuap nasi, bahkan sampai kelaparan dan menderita, semuanya dapat kita rasakan saat kita berpuasa.

Bertahan untuk tidak makan dan minum serta segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, adalah lelaku batin yang harus dijalani oleh semua kita, oleh hamba yang beriman saat Ramadhan. Jika tidak terbiasa, waktu ini akan terasa begitu lama dan berjalan begitu lambat. Maka di sinilah sebenarnya letak latihan itu, kesalihan personal (individual) seseorang ditempa untuk ditunjukkan kepada semua, bahwa kesalihan sosial sebentar lagi akan nampak dan berdampak pada lingkungan sekitar (tetangga dan orang terdekat).

Semua kita tentu selalu mengharapkan yang terbaik. Jika puasa kita baik, maka apa yang lahir dari puasa itu akan baik pula.

Puasa adalah latihan menempa diri.

Puasa juga sarana melatih kepekaan sosial.

Puasa merupakan bagian dari cara merasakan penderitaan orang lain.

Puasa mampu melahirkan sikap sosial dan empati, kepada diri sendiri, juga lingkungan.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/puasa-dan-kesalihan-sosial/