Categories
Berita Pengumuman

Keluarga Besar SMK AL HUDA GROGOL Mengucapkan Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020

Keluarga Besar SMK AL HUDA GROGOL Mengucapkan Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2020 dengan Tema “BELAJAR DARI COVID 19”

Categories
Artikel Berita

#9 Menyelamatkan generasi millinial dalam menghadapi Fenomena Antagonis Akhir Zaman

Menyelamatkan generasi millinial dalam menghadapi Fenomena Antagonis Akhir Zaman

Oleh : Dr. Nanik Nurhayati.S.Ag. M.Pd

Pengawas PAI Kota Madiun

Pada zaman modern saat ini, teknologi semakin berkembang pesat. Gadget dan internet pun seakan sudah menjadi kekasih bagi generasi millennial kita. Generasi Milenial adalah kelompok demografi setelah melalui beberapa tahapan diantaranya Generasi baby boomers yang lahir setelah tahun 1946 sampai 1960, generasi X yang lahir sekitar 1961-1980, generasi Y yang lahir 1981-1995 dan generasi Z yang lahir setelah 1995, dan generasi ini disebut juga generasi milenial. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok milenial dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahirannya, generasi milenial yang lahir bersamaan era disrupsi yaitu era yang terjadi perubahan fundamental.

Digitalisasi akibat dari evolusi tehnologi terutama informasi yang mengubah hampir semua tatanan, digitalisasi sekarang bersamaan dengan era disrupsi, hal ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas nyata ke dunia maya, perubahan yang terjadi dalam dunia ini sudah sangat akrab sekali dengan generasi kita yang disebut generasi milenial, akses media sosial yang mudah, menyebabkan mudahnya peredaran berita bohong, Hoax beragam bentuknya; mulai dari hoax dalam aspek pendidikan, kesehatan hingga politik. Ujaran kebencian yang tersebar di dunia nyata maupun dunia maya mengiringi perkembangan hoax yang berakibat pada pecahnya persatuan dan kesatuan masyarakat yang telah dibangun dengan asas kerukunan, toleransi dalam pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu bineka tunggal ika.

Adapun ciri generasi milenial diantaranya: Gampang bosan pada barang yang dibeli, Generasi Mllenials memang punya jurus kalap dan gercep alias gerak cepat kalau sedang keluar produk baru. Dengan mudahnya mengakses internet, tinggal pencet, dan dapatlah akhirnya barang yang diidam-idamkan. tapi di balik itu, ternyata kaum millennial mudah bosan dengan barang yang mereka miliki. ‘No Gadget No Life’, Gak perduli tua atau muda, rasanya gadget saat ini menjadi separuh jiwa mereka. Memang, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ditambah dengan akses internet tak terbatas membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya. Hobi melakukan pembayaran non-cash. Kecanggihan teknologi gak cuma ada pada ponsel pintar atau gadget lainnya. Bahkan saat ini pun dalam melakukan transaksi juga makin modern. Berkembangnya model non-tunai dalam bertransaksi ternyata nggak disia-siakan oleh kaum penggandrung ke-instan-an. Suka dengan yang serba cepat dan instan, Perkembangan teknologi telah mempengaruhi para millennial untuk pendapatkan hal yang diingini tanpa menunggu lama. Selain itu, mobilitas yang padat semakin membuat mereka memilih yang serba instan dan tak merepotkan. Mau makan? Tinggal pencet. Mau jalan-jalan? Tinggal pencet juga. Walaupun begitu, bagi orang yang jeli ternyata keadaan ini bisa jadi peluang yang menguntungkan. Bagi pembisnis, generasi milenial Memilih pengalaman daripada aset. Ciri yang menggambarkan generasi millennial selanjutnya adalah, mereka lebih suka menghabiskan uang untuk mendapat pengalaman tertentu dibanding menabung untuk menambah aset. Tentu saja, umumnya millennial lebih memilih jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia daripada menabung untuk berinvestasi. Generasi milenial Berbeda perilaku dalam grup satu dan yang lain Sekarang ngobrol rame-rame nggak cuma bisa dilakukan saat nongkrong aja. Berkat menjamurnya aplikasi berbasis chat, semua orang pun bisa ngobrol dengan banyak teman sekaligus dalam fitur group chat. Generasi milenial Jago multitasking Millennials ternyata sangat jago kalau disuruh melakukan beberapa tugas bersamaan. Mobilitas serta aktivitas yang tinggi membuat mereka terbiasa melakukan banyak hal dengan cepat. Kritis terhadap fenomena sosialpBagaimana tidak, generasi muda menghabiskan banyak waktu untuk berselancar di dunia maya dengan perangkat pintarnya. Dari situlah mereka dihujani banyak informasi di seluruh dunia. Nah, tak heran kalau millennials sekarang lebih aktif untuk beropini di media sosial mengenai berita yang sedang hangat dibicarakan.

Dikit-dikit posting,. satu ini ciri-ciri millennials Indonesia banget nih! Emang tangan paling ringan kalo ngeliat yang instagram-able dikit, bawaannya pengen cepet-cepet posting aja. Mau makanan, sepatu branded, cafe baru, sampe temen kesandung pun masih sempet-sempetnya diposting di sosmed, Tapi, bagi millennial ‘sharing is cool’e ciri kaum millenials yang terakhir adalah mereka suka banget berbagi apapun itu. Gak peduli sekedar hal kecil, pada siapa pun dan di mana pun mereka pasti lebih bangga jika bisa berbagi.
Digitalisasi informasi dari dunia maya yang melanda generasi baby bomers, generasi X generasi Y dan generasi Z atau Milenial sudah banyak di pertunjukan, selain itu fenomena dunia mulai dari fenomena kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, LGBT, mencuri, bolos sekolah, merusak fasilitas sekolah, Perbuatan zina, Perbuatan kekerasan, hura-hura, kejahatan, pembunuhan, penganiayaan, minuman keras, penggunaan obat obat terlarang, anak anak durhaka pada orang tuanya, pada gurunya, dan kurang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul karimah, merupakan tantangan besar bagi generasi kita.

Gejala berakhirnya zaman tersebut sebagai “Fenomena Antagonis akhir zaman”. Fenomena antagonis merupakan fenomena yang menyimpang dari aturan agama, aturan pemerintah maupun aturan budaya. Fenomena akhir zaman yang sesuai juga di kemukakan oleh Gus Mus. Diantara fenomena antagonis akhir zaman yaitu: Semakin banyak teman di dunia maya tetapi tidak punya sahabat sejati, Perselingkuhan semakin marak, kesetiaan semakin punah, Pengetahuan semakin bagus kearifan semakin berkurang, Jumlah manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis, kualitas ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah, Penghasilan semakin meningkat, ketentraman jiwa semakin berkurang, Travelling keliling dunia tetapi tidak kenal dengan tetangga sendiri, Pengobatan semakin canggih, kesehatan semakin buruk, Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah, Banyak rumah semakin besar, tapi keluarganya semakin kecil, Ilmu semakin tersebar akhlak semakin lenyap, Belajar semakin mudah guru semakin tidak dihargai, Tehnologi informasi semakin canggih, Fitnah dan aib semakin tersebar (hoax), Tontonan semakin banyak, Tuntunan semakin berkurang, akhirnya tontonan jadi tuntunan.

Pengembalian akidah Islamiyah pada generasi milenial kita menjadi faktor pendukung utama dalam pengembalian karakter yang islami dan menyelamatkan generasi milenial kita dari fenomena antagonis akhir zaman, menanamkan aqidah sejak dini melalui peran orang tua sangat dominan dalam keberhasilan penyelamatan aqidah generasi kita. Kwajiban utama orang tua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya aqidah yang kuat dalam sanubarinya sehingga mampu membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh karakter yang jelek.

Generasi milenial kita adalah harapan besar kejayaan bangsa indonesia, di pundak merekalah perjuangan di sandarkan, Menyelamatkan generasi milenial kita adalah tugas bersama sama mulai dari pendidikan keluarga yaitu orang tua, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di masyarakat yang merupakan kekuatan (power) besar dalam membangun bangsa ini.

Membangun suatu kekuatan (power) masyarakat aqidah di tengah restorasi karakter yang menyimpang bangsa adalah sangat urgen, sebab tanpa aqidah yang kuat, kokoh dan handal, maka tidak ada semangat (spirit) dalam menjalankan setiap aktivitas ibadah. Tanpa ibadah yang baik dan benar, maka tidak akan terbentuk karakter anak bangsa yang baik pula, hanya dengan kekuatan aqidah yang benar dan kokoh, seseorang anak bangsa akan dapat menangkis dan membendung gempuran arus negatif yang ditimbulkan oleh tekonologi dan globalisaisi modern yang semakin hari semakin memprihatingkan sebagian besar anak bangsa yang telah banyak menyimpang dari fitrahnya yang sesungguhnya. Karena itu, perlu upaya serius dan sungguh-sungguh dari semua pihak untuk membangun kekuatan masyarakat aqidah di tengah restorasi karakter bangsa dengan fenomenanya akhir zaman.

Aqidah bersumber dari Allah Swt., Penguasa Tertinggi dan Mutlak, maka kesempurnaan aqidah tidak dapat diragukan lagi. Oleh karenanya seorang Mu’min, terutama para generasi muda harus yakin kebenaran aqidah sebagai poros dari segala pola laku, tabiat, karakter, dan tindakan seseorang yang akan menjamin kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat, serta merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit, antara ibadah dan adat/budaya Aqidah adalah asas untuk membangun masyarakat yang kuat, kokoh, dahsyat dan handal. Aqidah adalah asas persaudaaran, ukhuwah dan persaudaraan. Tidak membedakan antara yang miskin dan kaya, antara pinter dan bodoh, antara pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam, dan antara Arab dan bukan Arab, kecuali aqidah dan takwanya kepada Allah Swt.

Perlu dipahami bahwa bahwa berdirinya sautu bangunan dengan kokoh dan megah tanpa pondasi yang kuat merupakan perkara yang mustahil. Demikian pula, generasi milenial kita betapa sulit menemukan atau bahkan tidak ada sosok seorang muslim yang menunaikan berbagai aturannya dengan konsisten (istiqamoh) kecuali meraka adalah sosok orang-orang yang beraqidah yang benar dan lurus. Karena itu, halhal yang harus dibangun untuk menyelamatkan karakter generasi milenial kita di era antagonis akhir zaman, tidak terlepas dari quwwatul aqidah, quwwatul ibadah, quwwatul ukhuwah, quwwatul tsaqofah, dan quwwatul istishodiah.

Ada tujuh hal penting yang harus dibangun untuk menyelamatkan generasi milenial di tengah fenomena antagonis, yaitu: 1. Quwwatul Aqidah (Kekuatan Aqidah) Membangun kekuatan aqidah adalah hal paling penting yang harus pertama kali dilakukan. Mengapa aqidah menjadi dasar dari semuanya? Tanpa aqidah yang kuat maka tidak ada semangat dalam menjalankan ibadah. Tanpa ibadah yang baik, maka tidak akan terbentuk akhlak yang baik, ketika aqidah sudah kokoh, maka ibadah dan akhlak akan ikut menjadi baik. 2. Quwwatul Ibadah (Kekuatan Ibadah) Membangun kekuatan ibadah ialah langkah kedua setelah kekuatan aqidah dibangun. Ibadah ialah manifestasi konkret dari aqidah. Ketika aqidah tempatnya di hati, maka ibadah ialah perbuatan yang menjadi cerminan hati. Memperkokoh ibadah ialah menjadikan ibadah tidak hanya sebagai rutinitas dan ritual semata. Serangkaian gerakan dan bacaan yang sudah di luar kepala, yang akhirnya dilaksanakan tanpa nyawa. Bahkan, dikerjakan di waktu dan tenaga sisa. Ibadah juga tidak terbatas pada gerakan dan bacaan saja. Setiap aktivitas baik dapat menjadi ibadah selama diniatkan. 3. Quwwatul Ilmi (Kekuatan Ilmu) Kalau kita ingin maju baik dalam usaha, karir, ataupun hal lainnya, maka mau tak mau harus dengan ilmu. Nabi bersabda, “Barang siapa yang menghendaki dunia dengan baik maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki akhirat dengan baik maka harus pula dengan ilmu”. (H.R. Bukhari dan Muslim). 4. Quwwatul Akhlaq (Kekuatan Akhlaq) Kaum kafir quraisy yang memusuhi Islam, akhirnya tertarik masuk Islam karena keluhuran akhlaq Nabi Muhammad Saw., dalam berdakwah. Nabi tidak pernah berbohong, berkhianat dan sikap buruk lainnya. Pada hakikatnya, misi utama Nabi Muhammad Saw., adalah untuk menyempurnakan akhlaq umat manusia. Contoh sederhana akhlaq mulia ialah menempati janji, berkata tidak dusta, berkata menyenangkan orang lain walaupun dalam mengajak kebaikan dan melarang kemunkaran. Islam sesungguhnya amatlah cantik, indah dan sesuai fitrah manusia seandainya diimplementasikan secara menyeluruh. 5. Quwwatul Ukhuwah (Kekuatan Ukhuwah) Kesatuan ukhuwah menjadi daftar selanjutnya dari hal yang harus dikuatkan. Ketika terjadi perselisihan antara kelompok-kelompok Muslim, maka ukhuwah telah terganggu. Celah ini lah yang digunakan oleh pihak-pihak yang membenci Islam untuk menghancurkan Islam. 6. Quwwatuts Tsaqofah (Kekuatan Peradaban Selanjutnya ialah membangun kekuatan peradaban atau budaya. Peradaban ialah produk dari sebuah masyarakat yang memiliki sistem nilai dan sistem perilaku tertentu, maka peradaban yang baik hanya dapat dilahirkan dari suatu masyarakat yang baik. Salah satu caranya ialah dengan merestorasikan semuanya kepada Alquran dan hadis, di mana seluruh sistem nilai, etika, dan tata cara dalam kehidupan yang baik diatur dengan apik. 7. Quwwatul Iqtishodiah (Kekokohan Perekonomian) Sebuah sistem masyarakat yang memiliki peradaban yang luhur, harus didukung dengan sistem perekonomian yang kokoh. Uang memang segalanya, tapi kita tidak bisa melakukan segalanya tanpa uang.

Kekuatan akidah merupakan prinsip utama dalam menyelamatkan generasi milenial di tengah restorasi karakter anak bangsa di akhir zaman ini. Dengan tauhid akan melahirkan generasi milenial yang berkarakter mulia dan cerdas. Atas dasar ini, akidah mencerminkan sebuah unsur kekuatan yang mampu menyelamatkan generasi milenial dari fenomena antagonis akhir zaman menuju generasi yang berkarakter islami dan mampu membangun peradaban agama dan bangsa indonesia.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/menyelamatkan-generasi-millinial-dalam-menghadapi-fenomena-antagonis-akhir-zaman/

Categories
Artikel Berita

#8 INDAHNYA MERAIH BERKAH RAMADHAN DI TENGAH BADAI PANDEMI

INDAHNYA MERAIH BERKAH RAMADHAN DI TENGAH BADAI PANDEMI COVID 19

Oleh: Ustadzah NAFIDZATUL UMMAH, S.Ag, M.Pd.I

Bendahara MGMP PAI SMK PROVINSI JATIM – Guru PAI SMKN 1 BOJONEGORO

السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ‎

Alhamdulillah, tanpa terasa kita memasuki puasa Ramadan hari ke 8. Bulan yang diberkahi Allah SWT, bulan yang penuh maghfirah-Nya, bulan di mana dilipatgandakan pahala, serta berbagai keutamaan lainnya hadir di tengah kita, in syaa Allah.

Ada suasana yang sangat berbeda untuk Ramadan tahun 1441 H ini, Dia hadir di tengah suasana kehidupan sedang dilanda bencana wabah Virus Corona yang ngetren dengan istilah Pandemi Covid 19. Namun ancaman pandemi Virus ini tidak boleh menyurutkan semangat dan jihad kita dalam melaksanakan ibadah di bulan Al Quran ini, juga jangan sampai melemahkan semangat kita untuk menggapai hikmah puasa Ramadhan yang sangat mulia dan penuh ujian ini.

Kondisi ini akan menjadi tantangan dan memiliki nilai tersendiri manakala kita menghadapinya dengan penuh semangat dengan diuji kesabaran kita. Lantas Apa yang harus kita dilakukan demi mengoptimalkan amal Ramadan di tengah badai wabah pandemi yang ditakuti semua orang dan melumpuhkan aktivitas beberapa negara di dunia saat ini? Tentu saja yang paling utama adalah melakukan beberapa kiat supaya kita bisa menjalaninya secara saksama dan sempurna.

Beberapa Tips meraih berkah Ramadan:

Mantab kan keimanan
Berpuasa ramadhan adalah kewajiban yang Allah SWT perintahkan kepada hamba yang beriman, bahkan termasuk bagian dari rukun Islam. Karenanya, kehadiran Ramadhan, selayaknya kita menguatkan kembali komitmen kita bahwa semua amaliah Ramadhan dikerjakan semata karena dorongan keimanan kita kepada Allah SWT. Sebagai wujud ketaatan kita atas perintah-Nya dan tidak ada niat lain yang akan mencampuri keikhlasan kita.

Pondasi keimanan sangatlah penting dalam sebuah amal. Keberadaannya merupakan syarat suatu amal diterima Allah SWT sehingga layak mendapatkan balasan pahala. Selain itu, keyakinan akan perintah-Nya akan meringankan dan memudahkan kita ketika beramal. Manakala iman menjadi dasar amal, maka seberat apa pun rintangan dan kendala dalam menunaikan kewajiban tidak akan melemahkan semangatnya ibadah yang terbaik.

Sekalipun pandemi Covid-19 masih merajalela, orang yang imannya kuat akan bergeming bertekad istiqomah, beramal demi meraih keberkahan Ramadhan. Sebab Allah SWT tidak mungkin membebani hamba-Nya dengan perkara di luar batas kemampuannya.

Bahkan justru suasana Ramadan di tengah ancaman wabah ini menjadi moment sangat yang tepat untuk menguji kesabaran menghadapi segala ujian dan hambatan, sebagaimana Rasulullah saw melekatkan syahru sabar untuk bulan Ramadan.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim dari hadis Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْ

“Puasa bulan kesabaran dan puasa tiga hari di setiap bulan adalah puasa sepanjang tahun.”

Khusus tentang puasa Ramadan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bagi siapa pun yang melaksanakannya karena keimanan, berharap keridaan-Nya akan memberikan ampunan, seperti sabda beliau:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

”Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah SWT ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam Ramadhan. Sementara makna “ihtisaban” adalah berharap mendapat pahala dari Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththal, 7: 22).

Puasa Ramadhan saat ini, merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk mengukuhkan keimanan, sehingga siap beramal semata untuk menyambut dengan gembira seruan-Nya. Kita wajib memenuhi setiap perintah-Nya. Tidak hanya puasa, namun juga kewajiban lainnya seperti shalat, membaca Alquran, menuntut ilmu, berdakwah menegakkan syariat Allah, berbakti pada orang tua, mendidik anak, berbuat baik pada tetangga, dan lain sebagainya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Anfal [8] ayat 24 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”

Belajar ilmu seputar Ramadhan
Aktivitas Ramadhan bukan perkara biasa, tapi merupakan rangkaian ibadah yang memiliki nilai kemuliaan. Namun keistimewaannya tidak mungkin bisa diperoleh kecuali jika dikerjakan secara benar sesuai tuntutan Rasulullah SAW, teladan manusia dalam setiap perkara.

Di sinilah letak urgensi ilmu. Tanpa ilmu, akan mengantarkan pada sesatnya amal, menyebabkan tidak sampainya pada tujuan, dan yang paling berbahaya membuat amal tidak diterima Allah SWT.

Dalam Islam, kedudukan ilmu sangatlah penting. Banyak dalil yang menjelaskannya. Di antaranya adalah:

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬

“Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan ditanya.” (QS Al-Isra’: 36).

Rasulullah saw bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّي

“Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia berikan pemahaman tentang urusan agamanya.” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam hadis di atas Rasulullah SAW menggandengkan antara ilmu agama ‘faqqih fiddiin’, dengan kebaikan, yakni ilmu menjadi jalan diperolehnya kebaikan.

Dengan ilmu kita bisa mengetahui mana perkara yang dilarang di bulan Ramadan dan apa saja yang diperintahkan Allah. Ilmu laksana cahaya, akan menerangi ke jalan kebenaran dan akan menyelamatkan dari terjerumus pada kemaksiatan. Ilmu akan menyelamatkan kita dari kesia-siaan dan kekosongan pahala amal.

Terkait Ramadhan, banyak ilmu yang harus kita kuasai, di antaranya adalah fikih seputar puasa dan amaliah Ramadhan. Termasuk yang harus dipahami adalah tentang syarat wajib puasa: Islam, baligh, berakal, sehat, bermukim (tidak musafir), serta suci (dari haid dan nifas).

Demikian juga pengetahuan terkait rukun-rukun puasa agar diterima oleh Allah SWT, yakni: berniat dan menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum dengan sengaja, memasukkan dengan sengaja benda ke dalam rongga atau saluran makanan, muntah dengan sengaja, keluar haid dan nifas, gila, murtad, keluar mani dengan sengaja, dan melakukan hubungan suami istri di siang hari.

Selain ilmu seputar pelaksanaan puasa, kita juga perlu menyiapkan terkait amal apa saja yang penting bahkan disunahkan dikerjakan di bulan penuh berkah ini. Seperti makan sahur dan mengakhirkan pelaksanaannya, menyegerakan berbuka ketika sudah masuk waktunya, membaca doa yang dicontohkan Nabi saw ketika berbuka puasa, mandi janabah sebelum terbit fajar bagi yang memiliki hadas besar; Menahan lisan dari perkataan tidak berguna seperti bohong, gibah, dll; Memperbanyak infak sedekah, memperbanyak membaca Al Qur’an, berzikir, istigfar, memohon surga dan berlindung dari siksa neraka; Juga salat sunat seperti tahajud dan tarawih, memberi makan untuk berbuka puasa, dll.

Program Sukses Ramadan
Agenda yang dirancang dengan penuh persiapan tentu saja akan berbeda dengan acara yang dilakukan seadanya. Kita tidak boleh masuk ke dalam bulan penuh berkah ini tanpa persiapan sehingga akan berlalu tanpa hikmah yang diraih.

Gelar takwa adalah hikmah yang harus diupayakan dengan mengerjakan semua amaliah Ramadan. Allah SWT berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Semua harus kita lakukan dan optimalkan demi menggapai ketakwaan. Program dimulai dari sejak jelang Ramadan dengan menyambutnya penuh suka cita dan kegembiraan.

Marhaban yaa Ramadhan…

Demikianlah disabdakan baginda Nabi saw: “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).

Berikutnya adalah berusaha mencari tahu kepastian waktu datangnya Ramadan. Bagi orang yang memiliki kemampuan dan kesempatan, bisa melaksanakannya sendiri dengan melakukan rukyatulhilal, melihat munculnya bulan sabit yang menandakan datangnya tanggal 1 Ramadan.

Ketentuan untuk menetapkan awal dan akhir Ramadan berdasarkan pada terlihatnya hilal disandarkan pada hadis berikut:

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا [ قَالَ ]: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ: – إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berharirayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Syakban menjadi 30 hari).’” (Muttafaqun ‘alaih).

Sementara orang yang tidak memiliki kapasitas melakukan rukyatulhilal harus berupaya mencari informasi dengan berbagai cara supaya mengetahui kepastian kapan bulan Ramadan dimulai. Di era globalisasi informasi seperti sekarang ini, bukan hal sulit mendapatkan berita terkait permulaan Ramadan, sekalipun peristiwa terlihatnya hilal terjadi di wilayah yang jauh.

Persiapan selanjutnya adalah membuat program optimalisasi amaliah Ramadan, baik agenda pribadi, agenda, keluarga, maupun kegiatan yang ditujukan untuk kebaikan umat.

Di masa pandemi, di mana waktu kita banyak berada di rumah, tidak berarti bahwa kita terbatas untuk melakukan berbagai amal saleh. Waktu yang dimiliki bisa diisi untuk meningkatkan kualitas diri seperti muhasabah dan evaluasi.

Program bersama keluarga juga lebih berpeluang untuk dilakukan karena semua berada di rumah. Membaca Alquran bersama dan mengkajinya secara rutin bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga yang sebelumnya mungkin memiliki aktivitas masing-masing sehingga sulit bertemu dalam satu waktu.

Dakwah Islam untuk menyeru penegakan syariat kafah harus terus disampaikan sekalipun kita tetap tinggal di rumah. Kecanggihan teknologi bisa kita manfaatkan untuk menyebarluaskan pesan dakwah.

Momen Ramadan adalah waktunya semua menempa diri dan berlomba-lomba meraih pahala. Sehingga semestinya ajakan untuk mengkaji Islam dan mengamalkannya akan mendapatkan respons lebih cepat.

Umat sedang giat dan semangat mendekat pada Allah SWT. Mereka berharap mendapat rahmat dan ampunan-Nya. Padahal itu semua hanya akan diraih ketika amal berkesesuaian dengan syariat Islam.

Dengan syariat, semua amaliah Ramadan menjadi bermakna dan penuh hikmah. Sebaliknya, tanpa keterikatan pada syariat, semua akan berlalu dengan sia-sia.

Selanjutnya program di akhir Ramadan. Biasanya, amalan yang sangat ditunggu siapa pun yang berharap limpahan keberkahan Ramadan adalah iktikaf di masjid selama 10 hari terakhir.

Pada sepertiga akhir Ramadan ini kita meniatkan diri tinggal menetap di masjid dengan melakukan berbagai amal saleh dalam rangka takarub pada Allah SWT dan memohon berkesempatan mendapatkan kebaikan malam yang lebih mulia dari 1.000 bulan, itulah lailatul qadar ‘lailatul qadar’.

Sebagaimana diceritakan Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anh:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Sementara peluang terjadinya lailatulkadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan disabdakan Rasulullah saw dalam sebuah hadisnya:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari).

Pada saat ini masa serangan wabah Covid 19 yang masih melanda, kemungkinan akan sulit melakukan iktikaf di masjid-masjid. Kebijakan karantina mandiri dan karantina wilayah mengharuskan kita tetap berada di rumah dan membatasi diri berada di luar.

Semua dilakukan semata dalam rangka ikhtiar untuk menghindari paparan wabah Covid 19 dan menghentikan penyebarannya. Namun tidak berarti bahwa kita akan kehilangan kesempatan untuk bermunajat dan mendekat pada-Nya, juga tidak menutup peluang untuk mendapatkan kemuliaan lailatul qadar. Semua ibadah tersebut bisa kita lakukan di rumah. Allah Mahatahu uzur yang kita miliki yang menghalangi kita beriktikaf di rumah-Nya.

Program penutup, yakni memastikan zakat fitrah tersampaikan pada mustahik pada waktunya, salat Idulfitri, dan menjalin silaturahmi dengan kerabat. Penetapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tentu saja akan berpengaruh pada teknis pelaksanaan amaliah yang dikerjakan di penghujung Ramadan ini.

Karenanya, diperlukan penyiapan teknisnya sehingga semua tertunaikan dengan benar sesuai ketentuan syariat dengan tetap memperhatikan batasan kebijakan yang tengah diterapkan.

Ramadhan Momen Ibadah dan Mencari Hikmah di Balik Badai wabah pandemi

Datangnya musibah tidak akan mengubah kita dalam beristiqomah melakukan ibadah Ramadhan, dan tidak akan menghalangi kita sungguh-sungguh meraih keberkahannya. Persiapan yang saksama in syaa Allah akan membantu kita mengoptimalkan amaliah Ramadhan.

Dan yang tidak boleh kita lupakan bahwa dalam musibah yang sedang menimpa semua belahan dunia ini, ada banyak hikmah yang bisa diambil. Di antaranya adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa betapa lemahnya manusia, kecanggihan ilmu dan teknologi belum bisa menundukkan makhluk ciptaan Allah.

Saatnya menunjukkan pada umat bahwa kemajuan ciptaan akal manusia tidak bisa diandalkan untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan manusia.

Istighfar dan tobat yang terus kita lantunkan semoga memberikan kesadaran bahwa di balik wabah ada peringatan yang disampaikan Allah SWT atas kemaksiatan yang dilakukan manusia. Baik pelanggaran yang dilakukan individu maupun yang dikerjakan bersama berupa tidak diterapkannya syariat kafah sebagai sistem yang mengatur kehidupan (QS Ar Rum [30]:41).

Ketundukan kita pada semua aturan syariat terkait Ramadan demi diterimanya amal semoga menguatkan kita untuk siap pula terikat pada seluruh aturan syariat secara sempurna. Tiba waktunya untuk berpaling pada aturan Islam yang diturunkan oleh Zat yang Mahakuasa, Allah SWT Pencipta semua makhluk.

Semoga momen Ramadan bisa kita gunakan untuk menunjukkan kesungguhan upaya kita dalam perjuangan penegakan Islam. Sebagaimana yang dicontohkan baginda Nabi saw dan para sahabat beliau yang dengan gigih berani menghadapi kafir Quraisy dalam perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadan tahun kedua hijriah, aamiin yaa Robal aalamiin.

”Datangnya Musibah tidak akan menyurutkan kita dalam beristiqomah melaksanakan puasa ditengah badai pandemi ini……dan tidak akan menghalangi semangat kita untuk meraih indahnya berkah ramadhan, bersegeralah maksimalkan diri bertaqorrub meraih pertolongan Allah dari segala ujian,ketahuilah Allah tidak pernah menginginkan kita dalam kesusahan kecuali memang ada kebaikan setelahnya..”

وَاللهُ الْمُوَفِّقْ إِلىَ أَقْوَامِ الطَّرِيق

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/indahnya-meraih-berkah-ramadhan-di-tengah-badai-pandemi-covid19/

Categories
Artikel Berita

#7 PENTINGNYA MEMAHAMI NIAT PUASA RAMADHAN

PENTINGNYA MEMAHAMI NIAT PUASA RAMADHAN

Oleh : Nur Anas, S.Ag, M.Pd

Guru SMKN 1 Kamal

Sekretaris MGMP PAI SMK Provinsi Jawa Timur

 

Niat secara bahasa berarti ‘menyegaja’. Sedangkan secara istilah adalah :

اَلنِّـيَةُ قَصْدُ الشَّيْـئِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ

Artinya: Niat adalah ‘bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya. (Salim bin Sumair al-Hadhrami, Safînatun Najah, Surabaya, Miftah, halaman 3).

Fungsi niat adalah untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lainnya, atau membedakan ibadah dengan adat kebiasaan. Di samping itu, niat juga berfungsi untuk membedakan tujuan seseoramg dalam beribadah; apakah beribadah karena mengharap ridha Allah ﷻ ataukah karena mengharap pujian manusia (Ahmad Ibnu Rajab Al-Hambali, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Beirut, Darul Ma’rifah, 1408 H, halaman 67)

Dalam konteks puasa Ramadhan, niat merupakan salah satu rukun yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefarduannya didalam niat tersebut.

Ulama bersepakat bahwa niat terletak di dalam hati dan tidak wajib dilafalkan. Namun melafalkannya dianjurkan atau disunnahkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dan dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’:

وَمَـحَلُّ النِّـيَةِ القَلْبُ وَلاَ يُشْتَـرَطُ نُطْقُ الِّلسَانِ بِلاَ خِلاَفٍ، وَلاَ يَكْفِيْ عَنْ نِـيَةِ اْلقَلْبِ وَلَــكِنْ يُسْـتَحَبُّ التَّـلَفُّظُ مَعَ اْلقَلْبِ

Artinya: Bahwa tempat niat itu adalah hati dan tidak disyaratkan pengucapannya secara lisan. Tak cukup niat hati, namun disunnahkan untuk melafalkan (dengan lisan) bersamaan dengan niat di hati. (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 248).

Dalam kitab I’anatut Thalibin pada bab Puasa juga telah dijelaskan bahwa niat itu harus di hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunnah atau dianjurkan:

النِّيَاتُ بِاالْـقَلْبِ وَلاَ يُشْتَـرَطُ التَّـلَفُّظُ بـِهَا بَلْ يُنْدَبُ

Artinya: Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena mengucapkan niat itu disunnahkan/dianjurkan. (Sayid Bakri, I’anatut Thalibin, Surabaya, Hidayah, halaman 221).

Berdasarkan As Sunnah, memang ada perbedaan alokasi waktu untuk berniat antara puasa Ramadhan dan puasa sunnah. Niat puasa Ramadhan harus dilaksanakan pada malam hari sampai menjelang fajar, sedangkan niat puasa sunnah tidak.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَحْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Artinya: Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah, dari hafshah).

Pada puasa Ramadhan, niat harus dilakukan setiap malam menurut madzhab Syafi’i. Namun, ketika ada kesibukan atau aktivitas tertentu seringkali membuat masyarakat lupa untuk niat puasa pada malam hari.

Untuk mengantisipasinya, para ulama menganjurkan niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan. Hal ini ditujukan apabila suatu hari seseorang lupa untuk niat, maka puasanya tetap sah karena dicukupkan dengan niat satu bulan penuh tersebut dengan mengikuti (taqlid) pada madzhab Maliki.

Imam al-Qulyubi menjelaskan:

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ

Artinya: Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66).

Yang perlu diperhatikan, niat satu bulan penuh tersebut hanya sebatas antisipasi apabila lupa tidak niat puasa. Sehingga untuk setiap malamnya tetap diwajibkan niat seperti biasa, sebagaimana pendapat madzhab Syafi’i. (Hasyiyah Al-Jamal, II/31).

LAFAL NIAT PUASA RAMADHAN

Lafal Niat puasa adalah sebagai berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: Saya niat puasa besok untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta’ala.

Lafal “Ramadhan” dalam kajian ilmu Nahwu merupakan bentuk kategori isim ghair munsharif karena mempunyai akhiran huruf alif dan nun. Dalam ilmu Nahwu, isim ghair munsharif mempunyai pembahasan dan hukum yang berbeda dengan isim-isim yang lain.

Selain tidak bisa menerima tanwin, tanda baca untuk isim ini ketika berkedudukan ‘jer/khafadl’ itu dibaca fathah. Hal ini sesuai dengan ungkapan Al-‘Allâmah Abû ‘Abdillâh Muhammad Jamâluddîn ibn Mâlik at-Thâî alias Ibnu Malik dalam nadham Alfiyah:

وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ اَوْ يَكُ بَعْدَ اَلْ رَدِفْ

Artinya: Tandailah jar isim ghairu munsharif dengan fathah, selagi tak di-idhafah-kan (digabung dengan kata setelahnya) atau tidak menempel setelah ‘al’.

Jika melihat kedudukan lafad ‘Ramadhan’ dalam lafal niat di atas, maka ia berkedudukan sebagai mudlof ilahi dari lafad Syahr. Tetapi ia juga menjadi mudlof pada lafad Hadzihis Sanati.

Secara kaidah Nahwu, seharusnya lafad “Ramadhan” dibaca menggunakan harakat kasrah (harakat asli jer) menjadi Ramadhani bukan Ramadhana. Sehingga untuk kasus ini, jernya isim ghair munsharif (lafal Ramadhan) yang menggunakan fathah tidak berlaku lagi karena lafad Ramadhan menjadi mudlof terhadap lafad hadzihis sanati.

Dalam kitab-kitab fiqh juga diterangkan cara membacanya dengan harakat kasrah (Ramadhani, di antaranya dalam kitab I’anatut Tholibin, Juz 2 hlm. 253). Ketika menerangkan lafal niat puasa Ramadlan, ada penjelasan sebagai berikut:

…قَوْلُهُ: بِالْـجَرِّ لِإِضَافَتِهِ لِـمَا بَعْدَهُ) أَيْ يُقْرَأُ رَمَضَانِ بِالْـجَرِّ بِالْكَسْرَةِ، لِكَوْنِهِ مُضَافًا إِلىَ مَا بَعْدَهُ، وَهُوَ اِسْمُ اْلإِشَارَةِ).

Artinya: … (ucapan penulis: dengan jer, karena idlofahnya lafad Ramadhan terhadap lafad setelahnya) maksudnya lafad Ramadhan dibaca jer dengan kasrah, karena kedudukannya sebagai mudlof terhadap lafad setelahnya yaitu isim isyarah.

Akan tetapi bisa saja lafad Ramadhan dibaca menggunakan fathah dengan memberhentikan kedudukannya sebagai mudlof ilahi dari lafad syahr. Dengan syarat, lafal sesudah hadzihis sanah dibaca nashab dengan harakat fathah karena berkedudukan menjadi dharaf zaman (menunjukkan waktu) sebagai lafads di bawah ini:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلّه تَعَالَى

Dengan begitu, maka cara membacanya adalah ‘An ada’i fardli syahri Ramadlona hadzihis Sanata. Namun, yang demikian jarang digunakan oleh kitab-kitab fiqh sebab mayoritas kitab memudlofkan lafal Ramadhan pada lafal hadzihis sanati untuk menunjukkan kekhususannya.

Maka bagaimana jika teks lafal niat sebagaima tersebut di bawah ini:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Redaksi tersebut tidak tepat atau keliru karena tidak sesuai dengan kaidah ilmu nahwu.

Lalu bagaimana dengan hukum puasanya jika redaksi niatnya salah ?

Puasanya tetap sah SAH walaupun terjadi kesalahan dalam membaca harokat di dalamnya, selama yang dikehendaki dengan HADZIHISSANATI adalah bulan Ramadhan tahun ini, karena letak niat itu di dalam hati, sebagaimana shalat dhuhur dengan mengucapkan redaksi niat shalat ashar akan tetapi niatnya dalam hati adalah shalat dhuhur maka juga SAH sebagai shalat dhuhur.

Yang perlu diingat, kekeliruan dalam melafalkan niat tak berpengaruh pada keabsahan puasa, selama terbesit dalam hati untuk berpuasa. Seperti dikatakan, niat berhubungan dengan getaran batin. Sehingga ucapan lisan hanya bersifat sekunder belaka. Tapi kekeliruan akan menimbulkan rasa janggal, terutama di mata para ahli gramatika Arab.

Semoga kita semua senantiasa dalam limpahan rahmat dan ma’unah-Nya dan diberi kekuatan oleh Allah agar tetap bisa memaksimalkan ibadah puasa ramadhan tahun ini, tetap belajar, tetap beribadah dan tetap puasa walau pada saat ini kita menghadapi wabah virus Covid19, semoga dengan bulan ramadhon yang penuh berkah ini pandemi Covid19 oleh Allah SWT segera dilenyapkan dari muka bumi. Amin…

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/295-2/#more-295

Categories
Artikel Berita

#6 “DINAMIT” Meledakkan Potensi Spiritual

“DINAMIT” Meledakkan Potensi Spiritual

Disampaikan oleh Ibu Diah Umami, S.Pd.I, beliau adalah guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 3 Kota Pasuruan Jawa Timur.

Sumber Referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/category/kajian-ramadhan/

Categories
Artikel Berita

#5 Manajemen stres bagi remaja

“Manajemen stres bagi remaja”

Disampaikan oleh Bapak Drs. Slamet Riadi, beliau guru SMAN 2 Mejayan kabupaten Madiun.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/category/kajian-ramadhan/

Categories
Artikel Berita

#4 Iman dan Taqwa

Iman dan Taqwa

 

 

Disampaikan oleh Ustadz Ali Sururi, S.Ag Guru Agama Islam SMK Negeri 1 Kota Pasuruan Jatim

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/category/kajian-ramadhan/

Categories
Artikel Berita

Kajian Ramadhan Hari Pertama

Kajian hari pertama diisi oleh Ustadz Ahmad Faqih dengan mengambil tema “Lentera Hati Ramadhan” beliau adalah guru SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang.

Untuk video selengkapnya silahkan klik disini 

Categories
Artikel Berita Uncategorized videos

KEGIATAN RAMADHAN SMK AL HUDA GROGOL 2020

Categories
Artikel Berita Uncategorized

SELAMAT HARI KARTINI 21 APRIL 2020

Tak henti – hentinya aku mengucap syukur karena telah memiliki sosok ibu sepertimu
Kau rela memperjuangkan hidup dan matimu untuk melahirkanku kedunia ini
Rela menjagaku selama 9bln meski masih dalam kandungan
Dan rela menyitakan waktumu hanya untuk membesarkan dan mendidikku

Ibu.. Kasih sayangmu tak kan bertepi
Kepedulianmu selalu di hati
Kau pelipur lara yang kan abadi
Jiwaku hilang jika tanpamu
Baktiku hanya untukmu
Ketulusan hatiku kan ku lakukan hanya untuk membuatmu tersenyum
Meski lakuku selalu membuatmu sedih
Namun kau selalu mendoakan ku dalam setiap doa yang kau panjatkan
Kasih sayangmu tak kan bisa di bayar dengan uang
Kehadiranmu tak kan bisa di gantikan
Kebahagiaanmu adalah obat untuk langkah hidupku

Ibu.. kau selalu mengajarkan kebaikan untukku
Kau selalu mengingatkan ku jika ku berlaku dan berucap salah
Belaian kasihmu mampu mendamaikan hatiku
Terima kasih atas semua yang telah kau berikan pada malaikat kecilmu ini

Selamat hari ibu
Semoga Tuhan selalu menjaga ibu