Home / Artikel / #23 MALAM SERIBU BULAN

#23 MALAM SERIBU BULAN

MALAM SERIBU BULAN

 

 

Abdul Muis
Guru PAI SMA Negeri 1 Yosowilangun
Founder KLIK MEDIA INDONESIA

 

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Satu lagi keisitimewaan Ramadhan yang tidak ada di sebelas bulan yang lain, lailatul qadar atau malam qadar. Konon, Allah menyebutkan bahwa malam qadar ini lebih baik dari seribu bulan. Ada banyak sekali limpahan keberkahan dan anugerah yang diturnkan Allah melalui para malaikat-Nya di malam yang mulia ini.

Selain malam qadar, di bulan Ramadhan Allah juga menurunkan Alquran. Kitab terakhir ini diturunkan oleh Allah dan dijelaskan-Nya dalam empat surat berbeda. Sebagai bukti nyata bahwa dalam Ramadhan, ada malam nuzul Alquran, disamping malam qadar. Pertama, dalam Qs. Alqadr itu sendiri.

Kedua, dalam Qs. Ad-Dukhan/44:1-6. Allah menyebutkan “Haa miim. Demi Kitab (Alquran) yang jelas, sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Ketiga, dalam Qs. Albaqarah/2: 185, yaitu pada firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَان

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).

Keempat, dalam Qs. al-Anfal/8: 41.

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   ٤١

Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Qs. Alqadr menyatakan bahwa turunnya Alquran dari Lauhul Mahfuz ke Baitul-‘Izzah jelas pada malam qadr. Qs. Ad-Dukhan menguatkan turunnya Alquran pada malam yang diberkahi itu, kemudian Qs. Albaqarah menunjukkan turunnya Alquran pada bulan Ramadan.

Sedangkan Qs. al-Anfal/8: 41 menerangkan penyelesaian pembagian rampasan perang pada Perang Badar. Perang ini disebut yaumul-furqan karena merupakan pertempuran antara tentara Islam dengan tentara kafir, di mana kemenangan berada di tangan tentara Islam.

Dalam ayat ini diungkapkan bahwa Allah menurunkan Alquran pertama kali kepada Nabi Saw pada malam yang mulia. Kemudian diturunkan terus-menerus secara berangsur-angsur menurut peristiwa dan suasana yang menghendakinya dalam jangka waktu dua puluh dua tahun lebih, sebagai petunjuk bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti.

Sehubungan dengan uraian di atas, para ulama mengatakan bahwa kata anzala dan nazzala berbeda penggunaan dan maknanya. Oleh sebab itu, makna anzalnahu dalam Qs. Alqadr menunjukkan turunnya kitab suci Alquran pertama kali dan sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia. Kemudian diturunkan berangsur-angsur dari langit dunia kepada Nabi Muhammad Saw., yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari. Sedangkan makna nazzala bermakna diturunkan berangsur-angsur.

Tidak diragukan lagi bahwa semua kita kini sangat memerlukan Alquran sebagai pedoman yang menjelaskan sesuatu yang meragukan dalam hal-hal yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan atau masalah-masalah duniawi. Alquran juga menerangkan kejadian manusia dan kejadian yang akan datang ketika datangnya hari kebangkitan.

Manusia memerlukan pegangan tersebut karena tanpanya, mereka tidak dapat memahami prinsip-prinsip kemaslahatan yang sebenarnya untuk membentuk peraturan-peraturan dan undang-undang. Oleh sebab itu, benarlah pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama dan petunjuk rohani yang menentukan ukuran dan nilai sesuatu setelah mengetahui secara ilmiah keadaan dan khasiat sesuatu.

Pada surat ini Allah juga menyatakan keutamaan lailatul qadr yang tidak dapat diketahui oleh para ulama dan ilmuwan, bagaimanapun tingginya ilmu pengetahuan mereka. Pengertian dan pengetahuan Nabi-Nya pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu. Hanya Allah yang mengetahui segala hal yang gaib, yang menciptakan alam semesta, yang mewujudkannya dari tidak ada menjadi ada.

Pada ayat ketiga, Allah menerangkan keutamaan lailatul qadr yang sebenarnya. Malam itu adalah suatu malam yang memancarkan cahaya hidayah sebagai permulaan tasyr‘ yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam itu juga sebagai peletakan batu pertama syariat Islam, sebagai agama penghabisan bagi umat manusia, yang sesuai dengan kemaslahatan mereka sepanjang zaman.

Malam tersebut lebih utama dari seribu bulan yang mereka lalui dengan bergelimang dosa kemusyrikan dan kesesatan yang tidak berkesudahan. Ibadah pada malam itu mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik dari ibadah seribu bulan.

Sebutan kata “seribu” dalam ayat ini tidak bermaksud untuk menentukan bilangannya. Akan tetapi, maksudnya untuk menyatakan banyaknya yang tidak terhingga sebagaimana yang dikehendaki dengan firman Allah berikut.

يَوَدُّ اَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍ

Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun. (Albaqarah/2: 96)

Apakah ada malam yang lebih mulia daripada malam yang padanya mulai diturunkan cahaya hidayah untuk manusia setelah berabad-abad lamanya mereka berada dalam kesesatan dan kekufuran?.

Apakah ada kemuliaan yang lebih agung daripada malam di mana cahaya purnama ilmu makrifah ketuhanan menerangi jiwa Muhammad Saw. yang diutus sebagai rahmat untuk seluruh manusia, menyampaikan berita gembira dan ancaman serta memanggil mereka ke jalan yang lurus, menjadikan mereka umat yang melepaskan manusia dari belenggu perbudakan dan penindasan penguasa yang zalim di timur dan barat, dan mempersatukan mereka sesudah berpecah-belah dan bermusuh-musuhan?

Maka seyogyanya semua kita sejatinya menjadikan malam tersebut sebagai hari raya, karena malam itu merupakan waktu turunnya undang-undang dasar samawi yang mengarahkan manusia ke arah yang bermanfaat. Penurunan ini juga memperbaharui janji manusia dengan Tuhan yang berhubungan dengan jiwa dan harta sebagai tanda syukur atas nikmat pemberian-Nya serta mengharapkan pahala balasan-Nya.

Adapun pada ayat ke empat, Allah menyatakan sebagian dari keistimewaan malam lailatul qadr, yaitu turunnya para malaikat bersama Jibril dari alam malaikat sehingga tampak oleh Nabi Saw, terutama Jibril yang menyampaikan wahyu.

Penampakan Jibril kepada Nabi Saw dalam rupanya yang asli adalah perintah Allah, setelah Ia mempersiapkan Nabi-Nya untuk menerima wahyu yang akan disampaikannya kepada manusia yang mengandung kebajikan dan keberkahan.

Turunnya malaikat ke bumi adalah dengan izin Allah, tidak perlu kita menyelidiki bagaimana cara dan apa rahasianya. Kita cukup beriman saja dengannya. Adapun yang dapat diketahui manusia tentang rahasia alam ini hanya sedikit sekali, sebagaimana diterangkan dalam Alquran.

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit. (al-Isra’/17: 85).

Malam itu (lailatul qadr) adalah hari raya umat Islam karena merupakan waktu turunnya Alquran dan malam bersyukur kepada Allah atas kebajikan serta kenikmatan yang dikaruniakan-Nya kepada semua kita. Pada saat itu, malaikat ikut bersyukur bersama manusia atas kebesaran malam qadr, sebagai tanda kemuliaan manusia yang menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Di antara tanda-tanda lailatul qadr adalah matahari terbit tanpa sinarnya yang memancar. Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah menjelaskan tentang lailatul qadr.

(لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ، لاَ حَارَّةٌ وَلاَ باَرِدَةٌ، تُصْبِحُ شَمْسُهَا صَبِيْحَتَهَا صَفِيْقَةً حَمْرَاءَ. (رواه أبو داود

Lailatul qadr adalah malam yang tenang dan cerah, tidak panas dan tidak dingin, serta matahari pada pagi harinya berwarna merah terang. (HR. Abµ Dawud).

Dalam ayat berikutnya, Allah menyatakan bahwa malam qadr dipenuhi kebajikan dan keberkahan dari permulaan sampai terbit fajar, karena turunnya Alquran yang disaksikan oleh para malaikat ketika Allah melapangkan dada Nabi-Nya dan memudahkan jalan untuk menyampaikan petunjuk serta bimbingan kepada umatnya.

Lalu kapankah kita dapat bertemu dan menjumpai malam yang mulia ini?.

Dapatkah kita bertemua dengannya?.

Usaha apa yang dapat kita lakukan untuk bertemu dengan malam yang diliputi dengan kebaikan, kebajikan dan anugerah-Nya ini?.

Di manakah kita dapat menemuinya?.

Tak ada seorangpun dari kita yang tak ingin bertemu dengan malam qadr. Setiap kita, pasti ingin bertemu dengan malam yang di dalamnya Allah menurunkan malaikat, untuk mendoakan, mengamini setiap permohonan dan harapan yang dipanjatkan.

Berkaitan dengan kapan malam qadr itu akan datang, tak ada yang dapat memastikan kapan manusia dapat bertemu dengannya. Namun, beberapa hadits berikut dapat kita jadikan acuan, bagian dari ikhtiar kita bertemua dengan lailatul qadr. Kewajiban kita adalah ikhtiar, hasil dan maksud yang diharapkan biarkan Allah yang menentukan.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ وَكَانُوا لَا يَزَالُونَ يَقُصُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا أَنَّهَا فِي اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

Maka Nabi Saw. bersabda: “Sungguh ‘Abdullah menjadi orang yang paling berbahagia jika mau shalat malam”. ‘Abdullah RA. adalah orang yang seantiasa mendirikan shalat malam sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi Saw. tentang mimpi-mimpi mereka bahwa pelaksanaan lailatul qadr terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi Saw. bersabda: “Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar bahwa lailatul qadr terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencari lailatul qadr, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Ramadhan). (HR. Bukhari. Hadits No. 1088).

Pada hadits ini, Rasulullah memberikan indikator kepada semua kita jika ingin bertemu dengan malam qadr. Beliau menyebutkan bahwa malam qadr dapat kita cara pada sepuluh malam terakhir di bulan suci, bulan Ramadhan. Beliau juga tidak menyebutkan secara rinci, diantara sepuluh malam itu, dimanakah letak malam qadr, beliau tidak menyebutkan rinci.

Logikanya, di sepuluh malam terakhir ini, kita diharapkan semakin taqarrub ilallah. Meningkatkan ibadah kepada-Nya, memenuhi sepuluh malam terakhir dengan ibadah-ibadah sunnah, sehingga apa yang kita lakukan dapat menjadi bagian dari ikhtiar kita bertemu dengan malam seribu bulan.

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam lailatul qadr.” Ubay berkata, “Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadhan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim. Hadits No. 1272).

Semakin ke sini, kita akan terasa semakin dengan malam seribu bulan. Ada banyak sekali tuturan Rasulullah terkait dengan malam yang mulia ini. Pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim di atas, semakin memberikan gambaran jelas kepada kita bahwa, malam yang mulia itu dapat kita temui di malam ke dua puluh tujuh bulan Ramadhan.

Indikator penyebutan malam ke dua puluh tujuh ini antara lain adalah terbitnya matahari pada pagi hari dengan sinar berwarna putih yang tidak menyorot. Pada riwayat yang lain juga disebutkan bahwa pada hari itu (malam itu) tidak terasa panas tidak pula terasa dingin. Cuaca yang terjadi di malam mulia itu sangat bersahabat dengan manusia, nyaman dan tak dapat diwakili dengan kata-kata.

Riwayat lain menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Lalu datanglah Jibril dan berkata kepada beliau bahwa apa yang secang dicari ada di hadapannya (malam berikutnya). Lalu Rasulullah pun melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam pertengahannya. Kemudian Jibril datang lagi dan mengatakan hal yang sama. Kemudian Rasulullah berdiri dan memberi khutbah pada pagi harinya, hari ke dua puluh bulan Ramadhan.

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ فَإِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نُسِّيتُهَا وَإِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي وِتْرٍ وَإِنِّي رَأَيْتُ كَأَنِّي أَسْجُدُ فِي طِينٍ وَمَاءٍ

“Barangsiapa sudah beri’tikaf bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka pulanglah, karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Namun dia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air” (HR. Bukhari. Hadits No. 771).

Saat itu atap masjid terbuat dari daun dan pelepah kurma. Para sahabat yang datang, tidak melihat apapun di atas langit, hingga kemudian datanglah awan dan turun hujan.

Pada hadits yang lain Rasulullah menyebutkan bahwa malam qadr terdapat pada malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Bahwa Rasulullah: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan” (HR. Bukhari. Hadits No. 1878).

Bahkan lebih rinci ada pula tuturan Rasulullah mengenai malam seribu bulan ini.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى تَابَعَهُ عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ أَيُّوبَ

Nabi Saw bersabda: berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari ‘Aisyah dari Nabi Saw: “Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan, pada sisa malam kesembilan, pada yang ketujuh, pada yang kelima”. (HR. Bukhari. Hadits No. 1881).

Malam ganjil yang disebutkan Rasulullah pada hadits sebelumnya, diperkuat lagi dengan hadits ini bahwa malam qadr itu dapat ditemui di malam ke dua puluh sembilan, malam ke dua puluh tujuh dan malam ke dua puluh lima di bulan Ramadhan.

Kini, agakya telah jelas bagi kita, kapan, di mana dan dalam keadaan yang bagaimana semua kita dapat berjumpa dengan malam qadr. Rasulullah telah memberikan rambu-rambu kepada kita, mulai dari yang bersifat umum, hingga terinci waktunya. Sepuluh malam terakhir, malam ganjil, hingga disebutkan malam ke dua puluh lima, dua puluh tujuh dan dua puluh sembilan.

Selain itu, tuturan Rasulullah juga mengabarkan kepada kita bahwa saat itu, pagi hari matahari akan bersinar dengan cahaya putih yang tidak memancarkan panas, cuaca saat itu tidak panas tidak pula dingin. Adapula gambaran bahwa malam itu turun hujan sehingga Rasulullah sujud di atas tanah yang basah.

Kini, indikator itu telah jelas dan nampak nyata bagi kita. Tinggal bagaiman kesungguhan dan ikhitar setiap kita untuk mendapatkannya. I’tikaf yang dilakukan di masjid, langgar, musholla, surau dan sebagainya, adalah bagian dari ikhtiar nyata untuk bertemu dengan malam seribu bulan.

Hendaknya, semua ikhtiar itu didasari atas satu pondasi kokoh, bahwa semua yang dilakukan semata hanya karena Allah, bukan yang lain dan tidak ada yang lain. Muara dari semuanya hanya Allah.

Ibadah yang kita lakukan untuk bertemu dengan malam seribu bulan, adalah bukti nyata bahwa kita membutuhkan-Nya.

Bahwa kehidupan yang kita jalani tak akan berarti apa-apa tanpa kuasa-Nya.

Bahwa kehendak-Nya kepada semua kita bersifat mutlak. Kewajiban kita hanyalah ikhitar dan doa.

Bahwa ibadah kita, hidup dan mati kita, semua ada dalam kuasa-Nya.

Lalu hasilnya, semua ditentukan oleh-Nya.

About JuaraWebSMK

Check Also

#25 3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an

“3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an”   Disampaikan oleh Ust. Musholim Thohir, S.Ag, dari SMK …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *