Categories
Artikel Berita

#7 PENTINGNYA MEMAHAMI NIAT PUASA RAMADHAN

PENTINGNYA MEMAHAMI NIAT PUASA RAMADHAN

Oleh : Nur Anas, S.Ag, M.Pd

Guru SMKN 1 Kamal

Sekretaris MGMP PAI SMK Provinsi Jawa Timur

 

Niat secara bahasa berarti ‘menyegaja’. Sedangkan secara istilah adalah :

اَلنِّـيَةُ قَصْدُ الشَّيْـئِ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ

Artinya: Niat adalah ‘bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya. (Salim bin Sumair al-Hadhrami, Safînatun Najah, Surabaya, Miftah, halaman 3).

Fungsi niat adalah untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lainnya, atau membedakan ibadah dengan adat kebiasaan. Di samping itu, niat juga berfungsi untuk membedakan tujuan seseoramg dalam beribadah; apakah beribadah karena mengharap ridha Allah ﷻ ataukah karena mengharap pujian manusia (Ahmad Ibnu Rajab Al-Hambali, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Beirut, Darul Ma’rifah, 1408 H, halaman 67)

Dalam konteks puasa Ramadhan, niat merupakan salah satu rukun yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefarduannya didalam niat tersebut.

Ulama bersepakat bahwa niat terletak di dalam hati dan tidak wajib dilafalkan. Namun melafalkannya dianjurkan atau disunnahkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dan dinukil oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’:

وَمَـحَلُّ النِّـيَةِ القَلْبُ وَلاَ يُشْتَـرَطُ نُطْقُ الِّلسَانِ بِلاَ خِلاَفٍ، وَلاَ يَكْفِيْ عَنْ نِـيَةِ اْلقَلْبِ وَلَــكِنْ يُسْـتَحَبُّ التَّـلَفُّظُ مَعَ اْلقَلْبِ

Artinya: Bahwa tempat niat itu adalah hati dan tidak disyaratkan pengucapannya secara lisan. Tak cukup niat hati, namun disunnahkan untuk melafalkan (dengan lisan) bersamaan dengan niat di hati. (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 248).

Dalam kitab I’anatut Thalibin pada bab Puasa juga telah dijelaskan bahwa niat itu harus di hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunnah atau dianjurkan:

النِّيَاتُ بِاالْـقَلْبِ وَلاَ يُشْتَـرَطُ التَّـلَفُّظُ بـِهَا بَلْ يُنْدَبُ

Artinya: Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena mengucapkan niat itu disunnahkan/dianjurkan. (Sayid Bakri, I’anatut Thalibin, Surabaya, Hidayah, halaman 221).

Berdasarkan As Sunnah, memang ada perbedaan alokasi waktu untuk berniat antara puasa Ramadhan dan puasa sunnah. Niat puasa Ramadhan harus dilaksanakan pada malam hari sampai menjelang fajar, sedangkan niat puasa sunnah tidak.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَحْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Artinya: Siapa saja yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah, dari hafshah).

Pada puasa Ramadhan, niat harus dilakukan setiap malam menurut madzhab Syafi’i. Namun, ketika ada kesibukan atau aktivitas tertentu seringkali membuat masyarakat lupa untuk niat puasa pada malam hari.

Untuk mengantisipasinya, para ulama menganjurkan niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadhan. Hal ini ditujukan apabila suatu hari seseorang lupa untuk niat, maka puasanya tetap sah karena dicukupkan dengan niat satu bulan penuh tersebut dengan mengikuti (taqlid) pada madzhab Maliki.

Imam al-Qulyubi menjelaskan:

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ

Artinya: Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66).

Yang perlu diperhatikan, niat satu bulan penuh tersebut hanya sebatas antisipasi apabila lupa tidak niat puasa. Sehingga untuk setiap malamnya tetap diwajibkan niat seperti biasa, sebagaimana pendapat madzhab Syafi’i. (Hasyiyah Al-Jamal, II/31).

LAFAL NIAT PUASA RAMADHAN

Lafal Niat puasa adalah sebagai berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: Saya niat puasa besok untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta’ala.

Lafal “Ramadhan” dalam kajian ilmu Nahwu merupakan bentuk kategori isim ghair munsharif karena mempunyai akhiran huruf alif dan nun. Dalam ilmu Nahwu, isim ghair munsharif mempunyai pembahasan dan hukum yang berbeda dengan isim-isim yang lain.

Selain tidak bisa menerima tanwin, tanda baca untuk isim ini ketika berkedudukan ‘jer/khafadl’ itu dibaca fathah. Hal ini sesuai dengan ungkapan Al-‘Allâmah Abû ‘Abdillâh Muhammad Jamâluddîn ibn Mâlik at-Thâî alias Ibnu Malik dalam nadham Alfiyah:

وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ ¤ مَا لَمْ يُضَفْ اَوْ يَكُ بَعْدَ اَلْ رَدِفْ

Artinya: Tandailah jar isim ghairu munsharif dengan fathah, selagi tak di-idhafah-kan (digabung dengan kata setelahnya) atau tidak menempel setelah ‘al’.

Jika melihat kedudukan lafad ‘Ramadhan’ dalam lafal niat di atas, maka ia berkedudukan sebagai mudlof ilahi dari lafad Syahr. Tetapi ia juga menjadi mudlof pada lafad Hadzihis Sanati.

Secara kaidah Nahwu, seharusnya lafad “Ramadhan” dibaca menggunakan harakat kasrah (harakat asli jer) menjadi Ramadhani bukan Ramadhana. Sehingga untuk kasus ini, jernya isim ghair munsharif (lafal Ramadhan) yang menggunakan fathah tidak berlaku lagi karena lafad Ramadhan menjadi mudlof terhadap lafad hadzihis sanati.

Dalam kitab-kitab fiqh juga diterangkan cara membacanya dengan harakat kasrah (Ramadhani, di antaranya dalam kitab I’anatut Tholibin, Juz 2 hlm. 253). Ketika menerangkan lafal niat puasa Ramadlan, ada penjelasan sebagai berikut:

…قَوْلُهُ: بِالْـجَرِّ لِإِضَافَتِهِ لِـمَا بَعْدَهُ) أَيْ يُقْرَأُ رَمَضَانِ بِالْـجَرِّ بِالْكَسْرَةِ، لِكَوْنِهِ مُضَافًا إِلىَ مَا بَعْدَهُ، وَهُوَ اِسْمُ اْلإِشَارَةِ).

Artinya: … (ucapan penulis: dengan jer, karena idlofahnya lafad Ramadhan terhadap lafad setelahnya) maksudnya lafad Ramadhan dibaca jer dengan kasrah, karena kedudukannya sebagai mudlof terhadap lafad setelahnya yaitu isim isyarah.

Akan tetapi bisa saja lafad Ramadhan dibaca menggunakan fathah dengan memberhentikan kedudukannya sebagai mudlof ilahi dari lafad syahr. Dengan syarat, lafal sesudah hadzihis sanah dibaca nashab dengan harakat fathah karena berkedudukan menjadi dharaf zaman (menunjukkan waktu) sebagai lafads di bawah ini:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ لِلّه تَعَالَى

Dengan begitu, maka cara membacanya adalah ‘An ada’i fardli syahri Ramadlona hadzihis Sanata. Namun, yang demikian jarang digunakan oleh kitab-kitab fiqh sebab mayoritas kitab memudlofkan lafal Ramadhan pada lafal hadzihis sanati untuk menunjukkan kekhususannya.

Maka bagaimana jika teks lafal niat sebagaima tersebut di bawah ini:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Redaksi tersebut tidak tepat atau keliru karena tidak sesuai dengan kaidah ilmu nahwu.

Lalu bagaimana dengan hukum puasanya jika redaksi niatnya salah ?

Puasanya tetap sah SAH walaupun terjadi kesalahan dalam membaca harokat di dalamnya, selama yang dikehendaki dengan HADZIHISSANATI adalah bulan Ramadhan tahun ini, karena letak niat itu di dalam hati, sebagaimana shalat dhuhur dengan mengucapkan redaksi niat shalat ashar akan tetapi niatnya dalam hati adalah shalat dhuhur maka juga SAH sebagai shalat dhuhur.

Yang perlu diingat, kekeliruan dalam melafalkan niat tak berpengaruh pada keabsahan puasa, selama terbesit dalam hati untuk berpuasa. Seperti dikatakan, niat berhubungan dengan getaran batin. Sehingga ucapan lisan hanya bersifat sekunder belaka. Tapi kekeliruan akan menimbulkan rasa janggal, terutama di mata para ahli gramatika Arab.

Semoga kita semua senantiasa dalam limpahan rahmat dan ma’unah-Nya dan diberi kekuatan oleh Allah agar tetap bisa memaksimalkan ibadah puasa ramadhan tahun ini, tetap belajar, tetap beribadah dan tetap puasa walau pada saat ini kita menghadapi wabah virus Covid19, semoga dengan bulan ramadhon yang penuh berkah ini pandemi Covid19 oleh Allah SWT segera dilenyapkan dari muka bumi. Amin…

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/295-2/#more-295

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *