Categories
Artikel Berita

#13 LITERASI: PERINTAH PERTAMA DALAM ISLAM

LITERASI: PERINTAH PERTAMA DALAM ISLAM

Oleh: Abdul Muis

(Penulis Buku “Guru Asyik Murid Fantastik”)

Gerakan literasi hingga 2020, telah menyentuh banyak aspek. Sekolah sebagai lumbung pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan bagi generasi masa depan, menjadi tempat yang paling strategis dalam rangka membumikan literasi itu sendiri. Prestasi yang ditunjukkan oleh setiap peserta didik di sekolah, selama ini masih menjadi tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan, terlebih prestasi akademik.

Pengetahuan atau kognitif atau konseptual dalam penguasaan pembelajaran, masih menjadi hal utama yang harus dikuasai oleh peserta didik. Jika dalam aspek ini ia berhasil, maka bisa dipastikan, aspek lainnya akan mengikuti. Inilah yang selama ini dipahami oleh semua kita.

Pada satu sisi, kita semua, guru, dituntut agar menghasilkan lulusan yang mampu bersaing, mampu menjawab tantangan masa depan dan mampu bersaing di masa yang akan datang. Tak ayal, tuntutan ini seringkali dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari cara yang sederhana dan lumrah, hingga cara yang rumit dan tak logis. Semua kita, guru, pasti paham dengan bahasa ini. Tak perlu untuk diungkap dan dijabarkan detail.

Pada sisi yang lain, peserta diidk dituntut menguasai puluhan mata pelajaran, dalam waktu yang relatif singkat. Mereka kemudian diuji dengan metode tradisional, yang hingga detik ini masih diyakini sebagai metode uji paling efektif. Entah apa yang menjadi dasar, namun ini sudah kita lakukan bertahun-tahun dan menjadi gelar tahunan, rutin bahkan.

Dalam Islam, perintah pertama yang diberikan kepada manusian melalui Jibril adalah iqro’. Perintah ini populer di kalangan kita, pun peserta didik. Sejak di bangku sekolah dasar, peserta didik telah mendapatkan materi ini, mereka diberikan pengetahuan tentang wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dengan perantara Malaikat Jibril. Wahyu itu terdapat dalam Quran surat Alaq ayat 1-5. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Wahyu pertama yang dibawa oleh Malaikat Jibril, disampaikan kepada Nabi Saw, ini diajarkan kepada semua kita, sejak kita di bangku sekolah dasar. Setiap kita diminta membaca lalu menghafalnya, ayat sekaligus artinya. Namun, pernahkah kita berfikir, bagaimana kita mengimplementasikan wahyu pertama itu dalam kehidupan? Ingatkah kita, dengan metode apa dulu guru kita menyampaikan materi ini? Bagaimakah kita berusaha memahami materi ini hingga kemudian mampu mengerjakan dan menjawab pertanyaan dengan metode uji yang diguunakan hingga kini? jawabannya tentu masing-masing kita yang tahu.

Literasi sejatinya telah ada sejak dulu. Islam membumikan literasi melalui wahyu pertama dengan perintah Iqra’. Namun, perintah ini belum mampu kita pahami secara utuh. Perintah ini cenderung dipahami sebagai naskah tekstual yang menjadi bagian dari kitab suci. Padahal, mengutip tafsir Kemenag, wahyu pertama yang diturunkan Allah ini mengandung beberapa pelajaran penting dalam setiap ayatnya.

Ayat Pertama, Allah memerintahkan manusia membaca (mempelajari, meneliti, dan sebagainya.) apa saja yang telah Ia ciptakan, baik ayat-ayat-Nya yang tersurat (qauliyah), yaitu Al-Qur’an, dan ayat-ayat-Nya yang tersirat, maksudnya alam semesta (kauniyah). Membaca itu harus dengan nama-Nya, artinya karena Dia dan mengharapkan pertolongan-Nya. Dengan demikian, tujuan membaca dan mendalami ayat-ayat Allah itu adalah diperolehnya hasil yang diridai-Nya, yaitu ilmu atau sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

Ayat Kedua, Allah menyebutkan bahwa di antara yang telah Ia ciptakan adalah manusia, yang menunjukkan mulianya manusia itu dalam pandangan-Nya. Allah menciptakan manusia itu dari ‘alaqah (zigot), yakni telur yang sudah terbuahi sperma, yang sudah menempel di rahim ibu. Karena sudah menempel itu, maka zigot dapat berkembang menjadi manusia. Dengan demikian, asal usul manusia itu adalah sesuatu yang tidak ada artinya, tetapi kemudian ia menjadi manusia yang perkasa. Allah berfirman: Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. (ar-Rµm/30: 20);Asal usulnya itu juga labil, zigot itu bisa tidak menempel di rahim, atau bisa terlepas lagi dari rahim itu, sehingga pembentukan manusia terhenti prosesnya. Oleh karena itu, manusia seharusnya tidak sombong dan ingkar, tetapi bersyukur dan patuh kepada-Nya, karena dengan kemahakuasaan dan karunia Allah-lah, ia bisa tercipta. Allah berfirman menyesali manusia yang ingkar dan sombong itu: “Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata! (Y±s³n/36: 77).

Menurut kajian ilmiah, ‘alaqah merupakan bentuk perkembangan pra-embrionik, yang terjadi setelah percampuran sel mani (sperma) dan sel telur. Moore dan Azzindani menjelaskan bahwa ‘alaqah dalam bahasa Arab berarti lintah (leech) atau suatu suspensi (suspended thing) atau segumpal darah (a clot of blood). Lintah merupakan binatang tingkat rendah, berbentuk seperti buah per, dan hidup dengan cara menghisap darah. Jadi ‘alaqah merupakan tingkatan (stadium) embrionik, yang berbentuk seperti buah per, di mana sistem kardiovaskuler (sistem pembuluh-jantung) sudah mulai tampak, dan hidupnya tergantung dari darah ibunya, mirip dengan lintah. ‘Alaqah terbentuk sekitar 24-25 hari sejak pembuahan. Jika jaringan pra-embrionik ‘alaqah ini diambil keluar (digugurkan), memang tampak seperti segumpal darah (a blood clot like). Lihat pula telaah ilmiah pada penjelasan Surah Nuh/71 ayat 14.

Ayat Ketiga, Allah meminta manusia membaca lagi, yang mengandung arti bahwa membaca yang akan membuahkan ilmu dan iman itu perlu dilakukan berkali-kali, minimal dua kali. Bila Al-Qur’an atau alam ini dibaca dan diselidiki berkali-kali, maka manusia akan menemukan bahwa Allah itu pemurah, yaitu bahwa Ia akan mencurahkan pengetahuan-Nya kepadanya dan akan memperkokoh imannya.

Ayat Keempat, Di antara bentuk kepemurahan Allah adalah Ia mengajari manusia mampu menggunakan alat tulis. Mengajari di sini maksudnya memberinya kemampuan menggunakannya. Dengan kemampuan menggunakan alat tulis itu, manusia bisa menuliskan temuannya sehingga dapat dibaca oleh orang lain dan generasi berikutnya. Dengan dibaca oleh orang lain, maka ilmu itu dapat dikembangkan. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahuinya, artinya ilmu itu akan terus berkembang. Demikianlah besarnya fungsi baca-tulis.

Ayat Kelima, Di antara bentuk kepemurahan Allah adalah Ia mengajari manusia mampu menggunakan alat tulis. Mengajari di sini maksudnya memberinya kemampuan menggunakannya. Dengan kemampuan menggunakan alat tulis itu, manusia bisa menuliskan temuannya sehingga dapat dibaca oleh orang lain dan generasi berikutnya. Dengan dibaca oleh orang lain, maka ilmu itu dapat dikembangkan. Dengan demikian, manusia dapat mengetahui apa yang sebelumnya belum diketahuinya, artinya ilmu itu akan terus berkembang.

Demikianlah besarnya fungsi baca-tulis. Andai materi yang panjang ini disampaikan dengan metode yang tepat, lalu semua kita pun kemudian dibimbing menemukan pemahaman dan pengetahuan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan, bisa jadi apa yang kita rasa dan alami kini, akan berbeda.

Namun, pengetahuan yang kita dapat sejak di bangku sekolah dasar hingga kini, adalah nilai paling berharga yang tak dapat ditukar dengan apapun. Kemampuan semua kita kini, memahami literasi dalam surat Alalaq dengan keterampilan yang kita miliki, sejatinya dapat kita implementasikan dalam kehidupan ini dengan sangat mudah.

Berakhlak, beradab, sopan, baik, ramah, pengasih, menyayangi sesama, tidak iri, selalu bersyukur, baik kepada tetangga, berbakti kepada orang tua dan guru, saling mengingatkan dalam hal kebaikan, tolong menolong, dan sikap baik lainnya, yang selayaknya melekat pada setiap kita, sejatinya adalah kemampuan kita memahami kehidupan. Inilah kemudian yang disebut dengan literasi manusia. Dengan kemampuan ini, tantangan masa depan akan dapat dijawab dengan penuh keyakinan. Salam Literasi.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/literasi-perintah-pertama-dalam-islam/#more-216

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *