Home / Artikel / #10 PUASA DAN KESALIHAN INDIVIDUAL

#10 PUASA DAN KESALIHAN INDIVIDUAL

PUASA DAN KESALIHAN INDIVIDUAL

Oleh: ABDUL MUIS, M.Pd.I

Penulis Buku “Andai Tahun Ini Ramadhan Terakhirku”

Guru PAI SMA Negeri 1 Yosowilangun

Ahmad Musthofa Bisri, pernah menulis buku dengan judulKesalihan Individual dan Kesalihan Sosial.Buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan beliau, yang menceritakan hal ihwal kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kejadian ringan yang ngurusi hubungan kita dengan tetangga, dan orang-orang terdekat, sampai pada urusan agama dan negara kita tercinta.

Semua diceritakannya dengan bahasa ringan dan sindiran. Sehingga siapapun yang membacanya akan langsung merasa diingatkan, ditegur untuk evaluasi diri dan segera memperbaiki diri. Membaca buku ini akan mengajarkan kepada kita dampak dari sesuatu yang kita lakukan dalam hidup, dampak (akibat baik) yang seharusnya tumbuh dan berkembang dalam diri sehingga menular dan terasa bagi lingkungan sekitar (orang lain).

Puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan, adalah sarana ibadah wajib yang mutlak dan langsung bersumber dari perintah Allah dalam Alquran. Ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi sehingga puasa yang dilakukan tidak sia-sia, agar puasa yang kita lakukan sah dan berpahala.

Sejatinya, orang yang berpuasa (dan tentu ibadah-ibadah selainnya), adalah sarana menempa diri di dunia, agar menjadi pribadi yang baik, pribadi yang muhsin, muttaqin, pribadi yang menghadirkan kenyamanan dan rasa aman bagi siapapun yang bersamanya.

Ada satu kisah menarik dalam buku yang ditulis oleh Fuad Abdurrahman, tentang sahabat nabi yang bernama Abu Dujanah. Nama asli Abu Dujanah adalah Samak bin Kharsyah. Dia adalah pemegang pedang Rasulullah pada perang Uhud. Ada satu kebiasaan aneh Abu Dujanah setiap kali ia mengikuti jamaah shalat subuh. Seketika setelah shalat subuh selesai, ia bergegas buru-buru pulang, tidak mengikuti doa Rasulullah Saw. Kebiasaan ini ia lakukan setiap kali mengikuti jamaah shalat subuh di masjid. Hingga suatu ketika Rasulullah menegurnya.

“wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak butuh kepada Allah?”. Tanya Rasulullah.

“Tentu saja aku butuh kepada Allah, ya Rasulullah” Jawab Abu Dujanah.

“Tetapi mengapa kau tidak diam dulu sampai tuntas doaku”?.

“Maafkan aku ya Rasulullah. Aku ada keperluan”.

“Apa keperluanmu?”.

Sejenak Abu Dujanah terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Rasulullah.

Sejurus kemudian ia menuturkan, “ya Rasulullah, rumahku berdekatan dengan rumah tetanggaku. Di rumahnya, ada sebatang pohon kurma yang condong ke rumahku. Jika angin berhembus malam hari, buah kurma yang matang berjatuhan di halaman rumahku. Bila anak-anakku bangun pagi dan merasa lapar, mereka akan makan apa yang mereka lihat di halaman rumah. Karena itulah aku bergegas pulang sebelum mereka bangun untuk mengumpulkan kurma-kurma itu dan memberikannya kepada pemiliknya”.

“Suatu hari, aku melihat salah seorang anakku memasukkan kurma ke mulutnya, aku mengeluarkannya dengan jariku dan kukatakan kepadanya: ‘Hai anakku, jangan membuka aib ayahmu kelak di akhirat’. Ia kemudian menangis karena merasa sangat lapar. Lalu aku berkata lagi kepadanya: ‘aku tidak akan membiarkan barang haram memasuki perutmu’. Lalu, aku segera memberikan kurma-kurma itu kepada pemiliknya”.

Mendengar penjelasan Abu Dujanah, mata Rasulullah tampak berlinang, lalu beliau bertanya siapa pemilik pohon kurma itu. Abu Dujanah menjelaskan bahwa pemilik pohon kurma itu adalah seorang munafik. Maka Rasulullah pun memanggilnya.

“Juallah pohon kurma di rumahmu itu dengan sepuluh pohon kurma di surga yang akarnya berupa intan berlian putih beserta bidadari sebanyak bilangan kurma yang matang”.

Orang munafik itu kemudian menjawab: “Aku bukan pedagang. Aku mau menjual pohon kurma itu jika kau membayarnya dengan harga yang tinggi dan kontan”.

Abu Bakar yang juga berada di majelis itu menawarnya: “Maukah pohon kurmamu itu ditukar dengan sepuluh pohon kurma di tempat yang lain?”.

Di seluruh penjuru Madinah, tidak ada pohon kurma sebaik pohon kurma itu. Si pemilik kurma mau menjualnya kerana ditukar dengan sepuluh pohon kurma. Ia lalu berkata: “Baiklah, kalau begitu, aku mau menukarnya”.

“Ya, aku membelinya” jawab Abu Bakar. Lalu, pohon kurma itu diberikan kepada Abu Dujanah.

Rasulullah lalu bersabda: “Aku akan menaggung penggantinya, wahai Abu Bakar”. Tentu saja Abu Bakar dan Abu Dujanah merasa senang dengan ucapan Rasulullah.

Orang munafik itu pulang ke rumah, dan berkata kepada istrinya, “Sungguh, kita telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar hari ini”.

Lalu ia menceritakan apa yang barusaja terjadi. “Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang ditukar dengan satu pohon kurma di samping rumah ini untuk selama-lamanya. Kita masih bisa makan kurma yang jatuh dari pohon kurma itu dan aku tidak akan mengembalikan sedikitpun kepada pemiliknya”.

Malam harinya, ketika Abu Dujanah tidur, dengan kuasa Allah pohon kurma itu berpindah ke samping rumah Abu Dujanah. Keesokan harinya, orang munafik itu terkesiap heran melihat pohon kurma itu tidak lagi berada di samping rumahnya. Inilah mukjizat Rasulullah. Kekuasaan Allah lebih besar dari itu semua.

Kisah Abu Dujanah dan orang munafik ini mengajarkan kepada kita bahwa ibadah yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan ikhlash mengharap ridha Allah, akan melahirkan kesalihan diri, kesalihan individu yang nilainya lebih tinggi dari apapun. Ibadah yang kita lakukan, puasa yang kita kerjakan, sejatinya meningkatkan semangat kita dalam beribadah.

Kesalihan individual yang tercermin dalam puasa dapat berupa kemampuan diri mengendalikan hawa nafsu. Semua kita tahu, bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, hawa nafsu.

Mbah Moen pernah dawuh begini: “puasa adalah satu-satunya ibadah yang berfungsi untuk memecah syahwat, penolong supaya tidak menjadi budak-budak keinginan, pembantu hati kita agar wusul kepada Allah, serta penjaga agar kita tidak menjadi seperti hewan ternak atau lebih tersesat dari hewan yang tersesat”.

Sesederhana seperti ini misalnya, ketika kita berpuasa di hari pertama, menjelang berbuka, beraneka macam ragam hidangan tersaji di meja makan, ada kolak pisang, es teh, roti bakar, pisang coklat, aneka macam buah, minuman segar, minumah hangat, sampai pada makanan berat dengan lauk yang beraneka ragam dan rasa. Semua tersaji rapi dan menggoda selera.

Siapa yang tak tergoda melihat sajian lezat yang dihidangkan ini? Setiap kita yang berpuasa, pasti akan tergoda dan ingin rasanya melahap semua makanan yang ada. Di sinilah sebenarnya tantangan itu hadir. Nafsu yang menggelora dan menumpuk dalam diri, mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu di luar batas wajar.

Orang yang berlebihan makan saat berbuka, tentu akibatnya tidak baik, dampaknya akan terasa malas untuk melaksanakan ibadah berikutnya (shalat berjamaah hingga tarawih). Tubuh akan terasa lemas karena terlalu kenyang, badan akan terasa lebih berat dari biasanya karena makanan yang menumpuk dalam perut.

Berbeda dengan mereka yang mampu mengendalikan nafsunya. Makan makanan yang disajikan dengan tidak berlebihan, mencicipi beberapa saja karena ingin merasakannya, tidak makan berlebihan, dan lain sebagainya. Mereka mampu mengendalikan dorongan nafsu untuk makan dengan porsi yang lebih besar. Sehingga dampaknya ibadah berikutnya dapat dilakukan dengan mudah, penuh semangat dan khusyu’.

Inilah gambaran paling mendasar, bagaimana kemudian puasa menghadirkan kesalihan individu, kesalihan dalam diri sehingga berdampak pada kesalihan sosial (dampak kepada lingkungan).

Maimoen Zubair atau yang kita kenal dengan Mbah Moen pernah berpesan begini: “Termasuk wong seng nggak nduwe adab karo Pangeran kui, Cung, wong seng angger ndungo langsung njaluk opo sing dikarepi, tanpo basa-basi muji Pangeran ndisek, tanpa wasilah nganggo salah sijine Asmaul Husnane Pangeran, tanpo wasilah karo Kanjeng Nabi ndisek, senengane langsung njaluk opo sing dikarepi”.(termasuk orang yang tidak memiliki adab terhadap Allah itu, Nak, yang kalau berdoa langsung meminta apa yang diinginkannya tanpa memuji Allah terlebih dahulu, tanpa berwasilah menggunakan salah satu Asmaul Husna-Nya, tanpa berwasilah kepada Nabi terlebih dahulu, sukanya langsung meminta apa yang diinginkan).

Dawuh Mbah Moen ini jelas memberikan pesan penting kepada kita, bahwa di saat seseorang sedang terpuruk, jatuh terjerembab, membutuhkan sesuatu untuk dirinya (dan mungkin keluarganya), memiliki misi dan keinginan tertentu, ia akan otomatis mendekat kepada Allah dengan caranya. Meminta pertolongan-Nya dengan langsung menyampaikan apa yang menjadi keinginan dan nafsunya, tanpa pernah berfikir apakah ia layak meminta, bukan pula berfikir apakah ia pantas menerima dan pantas diberi.

Hamba yang memiliki kesalihan individual tentu akan berfikir seribu kali sebelum berdoa meminta apa yang menjadi keinginannya kepada Allah.

Hamba yang memiliki kesalihan individual akan merasa malu menuntut Allah untuk segera mengabulkan apa yang menjadi impiannya.

Hamba yang memiliki kesalihan individual akan berfikir apakah ia pantas meminta dan menuntu Allah untuk segera mengabulkan permohonannya.

Hamba yang memiliki kesalihan individual akan introspeksi diri, apakah ia pantas menerima anugerah-Nya, jika dibandingkan dengan ibadah yang ia lakukan selama ini.

Begitulah puasa, mampu menlahirkan kesalihan individual yang luar biasa, yang dapat mengantarkan seseorang pada derajat dan posisi diri yang baik, sehingga introspeksi diri ia dahulukan sebelum menuntut apa yang menjadi keinginan diri. Rasa malu pada diri (juga pada Tuhannya) senantiasa dikedepankan dibanding dengan keinginan dan nafsunya memiliki dan menggapai sesuatu.

Mbah Moen mengajarkan kepada kita, bahwa semua kita seringkali mendekat kepada Allah tatkala kita memiliki kebutuhan mendesak dan cita-cita yang harus segera diwujudkan. Tanpa mau berfikir, bahwa ibadah yang kita lakukan selama ini adalah bagian dari kebutuhan kita. Harusnya, kita berfikir bahwa ibadah kepada Allah adalah kebutuhan.

Sama halnya kita butuh bertahan hidup dengan cara bekerja, makan, berinteraksi dengan orang lain. Jika kita masih berfikir bahwa ibadah adalah kewajiban, maka potensi untuk melanggar (meninggalkan) kewajiban itu terbuka dan berpeluang sangat besar. Namun, jika sebaliknya, maka ini menjadi pertanda bahwa kesalihan individual dalam diri telah lahir.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/puasa-dan-kesalihan-individual/#more-338

About JuaraWebSMK

Check Also

#25 3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an

“3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an”   Disampaikan oleh Ust. Musholim Thohir, S.Ag, dari SMK …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *