Home / Artikel / #9 Menyelamatkan generasi millinial dalam menghadapi Fenomena Antagonis Akhir Zaman

#9 Menyelamatkan generasi millinial dalam menghadapi Fenomena Antagonis Akhir Zaman

Menyelamatkan generasi millinial dalam menghadapi Fenomena Antagonis Akhir Zaman

Oleh : Dr. Nanik Nurhayati.S.Ag. M.Pd

Pengawas PAI Kota Madiun

Pada zaman modern saat ini, teknologi semakin berkembang pesat. Gadget dan internet pun seakan sudah menjadi kekasih bagi generasi millennial kita. Generasi Milenial adalah kelompok demografi setelah melalui beberapa tahapan diantaranya Generasi baby boomers yang lahir setelah tahun 1946 sampai 1960, generasi X yang lahir sekitar 1961-1980, generasi Y yang lahir 1981-1995 dan generasi Z yang lahir setelah 1995, dan generasi ini disebut juga generasi milenial. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok milenial dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahirannya, generasi milenial yang lahir bersamaan era disrupsi yaitu era yang terjadi perubahan fundamental.

Digitalisasi akibat dari evolusi tehnologi terutama informasi yang mengubah hampir semua tatanan, digitalisasi sekarang bersamaan dengan era disrupsi, hal ini merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas nyata ke dunia maya, perubahan yang terjadi dalam dunia ini sudah sangat akrab sekali dengan generasi kita yang disebut generasi milenial, akses media sosial yang mudah, menyebabkan mudahnya peredaran berita bohong, Hoax beragam bentuknya; mulai dari hoax dalam aspek pendidikan, kesehatan hingga politik. Ujaran kebencian yang tersebar di dunia nyata maupun dunia maya mengiringi perkembangan hoax yang berakibat pada pecahnya persatuan dan kesatuan masyarakat yang telah dibangun dengan asas kerukunan, toleransi dalam pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu bineka tunggal ika.

Adapun ciri generasi milenial diantaranya: Gampang bosan pada barang yang dibeli, Generasi Mllenials memang punya jurus kalap dan gercep alias gerak cepat kalau sedang keluar produk baru. Dengan mudahnya mengakses internet, tinggal pencet, dan dapatlah akhirnya barang yang diidam-idamkan. tapi di balik itu, ternyata kaum millennial mudah bosan dengan barang yang mereka miliki. ‘No Gadget No Life’, Gak perduli tua atau muda, rasanya gadget saat ini menjadi separuh jiwa mereka. Memang, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ditambah dengan akses internet tak terbatas membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya. Hobi melakukan pembayaran non-cash. Kecanggihan teknologi gak cuma ada pada ponsel pintar atau gadget lainnya. Bahkan saat ini pun dalam melakukan transaksi juga makin modern. Berkembangnya model non-tunai dalam bertransaksi ternyata nggak disia-siakan oleh kaum penggandrung ke-instan-an. Suka dengan yang serba cepat dan instan, Perkembangan teknologi telah mempengaruhi para millennial untuk pendapatkan hal yang diingini tanpa menunggu lama. Selain itu, mobilitas yang padat semakin membuat mereka memilih yang serba instan dan tak merepotkan. Mau makan? Tinggal pencet. Mau jalan-jalan? Tinggal pencet juga. Walaupun begitu, bagi orang yang jeli ternyata keadaan ini bisa jadi peluang yang menguntungkan. Bagi pembisnis, generasi milenial Memilih pengalaman daripada aset. Ciri yang menggambarkan generasi millennial selanjutnya adalah, mereka lebih suka menghabiskan uang untuk mendapat pengalaman tertentu dibanding menabung untuk menambah aset. Tentu saja, umumnya millennial lebih memilih jalan-jalan keliling Indonesia dan dunia daripada menabung untuk berinvestasi. Generasi milenial Berbeda perilaku dalam grup satu dan yang lain Sekarang ngobrol rame-rame nggak cuma bisa dilakukan saat nongkrong aja. Berkat menjamurnya aplikasi berbasis chat, semua orang pun bisa ngobrol dengan banyak teman sekaligus dalam fitur group chat. Generasi milenial Jago multitasking Millennials ternyata sangat jago kalau disuruh melakukan beberapa tugas bersamaan. Mobilitas serta aktivitas yang tinggi membuat mereka terbiasa melakukan banyak hal dengan cepat. Kritis terhadap fenomena sosialpBagaimana tidak, generasi muda menghabiskan banyak waktu untuk berselancar di dunia maya dengan perangkat pintarnya. Dari situlah mereka dihujani banyak informasi di seluruh dunia. Nah, tak heran kalau millennials sekarang lebih aktif untuk beropini di media sosial mengenai berita yang sedang hangat dibicarakan.

Dikit-dikit posting,. satu ini ciri-ciri millennials Indonesia banget nih! Emang tangan paling ringan kalo ngeliat yang instagram-able dikit, bawaannya pengen cepet-cepet posting aja. Mau makanan, sepatu branded, cafe baru, sampe temen kesandung pun masih sempet-sempetnya diposting di sosmed, Tapi, bagi millennial ‘sharing is cool’e ciri kaum millenials yang terakhir adalah mereka suka banget berbagi apapun itu. Gak peduli sekedar hal kecil, pada siapa pun dan di mana pun mereka pasti lebih bangga jika bisa berbagi.
Digitalisasi informasi dari dunia maya yang melanda generasi baby bomers, generasi X generasi Y dan generasi Z atau Milenial sudah banyak di pertunjukan, selain itu fenomena dunia mulai dari fenomena kenakalan remaja, tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, LGBT, mencuri, bolos sekolah, merusak fasilitas sekolah, Perbuatan zina, Perbuatan kekerasan, hura-hura, kejahatan, pembunuhan, penganiayaan, minuman keras, penggunaan obat obat terlarang, anak anak durhaka pada orang tuanya, pada gurunya, dan kurang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul karimah, merupakan tantangan besar bagi generasi kita.

Gejala berakhirnya zaman tersebut sebagai “Fenomena Antagonis akhir zaman”. Fenomena antagonis merupakan fenomena yang menyimpang dari aturan agama, aturan pemerintah maupun aturan budaya. Fenomena akhir zaman yang sesuai juga di kemukakan oleh Gus Mus. Diantara fenomena antagonis akhir zaman yaitu: Semakin banyak teman di dunia maya tetapi tidak punya sahabat sejati, Perselingkuhan semakin marak, kesetiaan semakin punah, Pengetahuan semakin bagus kearifan semakin berkurang, Jumlah manusia semakin banyak, rasa kemanusiaan semakin menipis, kualitas ilmu semakin tinggi, kualitas emosi semakin rendah, Penghasilan semakin meningkat, ketentraman jiwa semakin berkurang, Travelling keliling dunia tetapi tidak kenal dengan tetangga sendiri, Pengobatan semakin canggih, kesehatan semakin buruk, Gelar semakin tinggi, akal sehat semakin rendah, Banyak rumah semakin besar, tapi keluarganya semakin kecil, Ilmu semakin tersebar akhlak semakin lenyap, Belajar semakin mudah guru semakin tidak dihargai, Tehnologi informasi semakin canggih, Fitnah dan aib semakin tersebar (hoax), Tontonan semakin banyak, Tuntunan semakin berkurang, akhirnya tontonan jadi tuntunan.

Pengembalian akidah Islamiyah pada generasi milenial kita menjadi faktor pendukung utama dalam pengembalian karakter yang islami dan menyelamatkan generasi milenial kita dari fenomena antagonis akhir zaman, menanamkan aqidah sejak dini melalui peran orang tua sangat dominan dalam keberhasilan penyelamatan aqidah generasi kita. Kwajiban utama orang tua terhadap anak-anaknya adalah tertanamnya aqidah yang kuat dalam sanubarinya sehingga mampu membentengi dirinya dari pengaruh-pengaruh karakter yang jelek.

Generasi milenial kita adalah harapan besar kejayaan bangsa indonesia, di pundak merekalah perjuangan di sandarkan, Menyelamatkan generasi milenial kita adalah tugas bersama sama mulai dari pendidikan keluarga yaitu orang tua, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di masyarakat yang merupakan kekuatan (power) besar dalam membangun bangsa ini.

Membangun suatu kekuatan (power) masyarakat aqidah di tengah restorasi karakter yang menyimpang bangsa adalah sangat urgen, sebab tanpa aqidah yang kuat, kokoh dan handal, maka tidak ada semangat (spirit) dalam menjalankan setiap aktivitas ibadah. Tanpa ibadah yang baik dan benar, maka tidak akan terbentuk karakter anak bangsa yang baik pula, hanya dengan kekuatan aqidah yang benar dan kokoh, seseorang anak bangsa akan dapat menangkis dan membendung gempuran arus negatif yang ditimbulkan oleh tekonologi dan globalisaisi modern yang semakin hari semakin memprihatingkan sebagian besar anak bangsa yang telah banyak menyimpang dari fitrahnya yang sesungguhnya. Karena itu, perlu upaya serius dan sungguh-sungguh dari semua pihak untuk membangun kekuatan masyarakat aqidah di tengah restorasi karakter bangsa dengan fenomenanya akhir zaman.

Aqidah bersumber dari Allah Swt., Penguasa Tertinggi dan Mutlak, maka kesempurnaan aqidah tidak dapat diragukan lagi. Oleh karenanya seorang Mu’min, terutama para generasi muda harus yakin kebenaran aqidah sebagai poros dari segala pola laku, tabiat, karakter, dan tindakan seseorang yang akan menjamin kebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat, serta merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit, antara ibadah dan adat/budaya Aqidah adalah asas untuk membangun masyarakat yang kuat, kokoh, dahsyat dan handal. Aqidah adalah asas persaudaaran, ukhuwah dan persaudaraan. Tidak membedakan antara yang miskin dan kaya, antara pinter dan bodoh, antara pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam, dan antara Arab dan bukan Arab, kecuali aqidah dan takwanya kepada Allah Swt.

Perlu dipahami bahwa bahwa berdirinya sautu bangunan dengan kokoh dan megah tanpa pondasi yang kuat merupakan perkara yang mustahil. Demikian pula, generasi milenial kita betapa sulit menemukan atau bahkan tidak ada sosok seorang muslim yang menunaikan berbagai aturannya dengan konsisten (istiqamoh) kecuali meraka adalah sosok orang-orang yang beraqidah yang benar dan lurus. Karena itu, halhal yang harus dibangun untuk menyelamatkan karakter generasi milenial kita di era antagonis akhir zaman, tidak terlepas dari quwwatul aqidah, quwwatul ibadah, quwwatul ukhuwah, quwwatul tsaqofah, dan quwwatul istishodiah.

Ada tujuh hal penting yang harus dibangun untuk menyelamatkan generasi milenial di tengah fenomena antagonis, yaitu: 1. Quwwatul Aqidah (Kekuatan Aqidah) Membangun kekuatan aqidah adalah hal paling penting yang harus pertama kali dilakukan. Mengapa aqidah menjadi dasar dari semuanya? Tanpa aqidah yang kuat maka tidak ada semangat dalam menjalankan ibadah. Tanpa ibadah yang baik, maka tidak akan terbentuk akhlak yang baik, ketika aqidah sudah kokoh, maka ibadah dan akhlak akan ikut menjadi baik. 2. Quwwatul Ibadah (Kekuatan Ibadah) Membangun kekuatan ibadah ialah langkah kedua setelah kekuatan aqidah dibangun. Ibadah ialah manifestasi konkret dari aqidah. Ketika aqidah tempatnya di hati, maka ibadah ialah perbuatan yang menjadi cerminan hati. Memperkokoh ibadah ialah menjadikan ibadah tidak hanya sebagai rutinitas dan ritual semata. Serangkaian gerakan dan bacaan yang sudah di luar kepala, yang akhirnya dilaksanakan tanpa nyawa. Bahkan, dikerjakan di waktu dan tenaga sisa. Ibadah juga tidak terbatas pada gerakan dan bacaan saja. Setiap aktivitas baik dapat menjadi ibadah selama diniatkan. 3. Quwwatul Ilmi (Kekuatan Ilmu) Kalau kita ingin maju baik dalam usaha, karir, ataupun hal lainnya, maka mau tak mau harus dengan ilmu. Nabi bersabda, “Barang siapa yang menghendaki dunia dengan baik maka harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menghendaki akhirat dengan baik maka harus pula dengan ilmu”. (H.R. Bukhari dan Muslim). 4. Quwwatul Akhlaq (Kekuatan Akhlaq) Kaum kafir quraisy yang memusuhi Islam, akhirnya tertarik masuk Islam karena keluhuran akhlaq Nabi Muhammad Saw., dalam berdakwah. Nabi tidak pernah berbohong, berkhianat dan sikap buruk lainnya. Pada hakikatnya, misi utama Nabi Muhammad Saw., adalah untuk menyempurnakan akhlaq umat manusia. Contoh sederhana akhlaq mulia ialah menempati janji, berkata tidak dusta, berkata menyenangkan orang lain walaupun dalam mengajak kebaikan dan melarang kemunkaran. Islam sesungguhnya amatlah cantik, indah dan sesuai fitrah manusia seandainya diimplementasikan secara menyeluruh. 5. Quwwatul Ukhuwah (Kekuatan Ukhuwah) Kesatuan ukhuwah menjadi daftar selanjutnya dari hal yang harus dikuatkan. Ketika terjadi perselisihan antara kelompok-kelompok Muslim, maka ukhuwah telah terganggu. Celah ini lah yang digunakan oleh pihak-pihak yang membenci Islam untuk menghancurkan Islam. 6. Quwwatuts Tsaqofah (Kekuatan Peradaban Selanjutnya ialah membangun kekuatan peradaban atau budaya. Peradaban ialah produk dari sebuah masyarakat yang memiliki sistem nilai dan sistem perilaku tertentu, maka peradaban yang baik hanya dapat dilahirkan dari suatu masyarakat yang baik. Salah satu caranya ialah dengan merestorasikan semuanya kepada Alquran dan hadis, di mana seluruh sistem nilai, etika, dan tata cara dalam kehidupan yang baik diatur dengan apik. 7. Quwwatul Iqtishodiah (Kekokohan Perekonomian) Sebuah sistem masyarakat yang memiliki peradaban yang luhur, harus didukung dengan sistem perekonomian yang kokoh. Uang memang segalanya, tapi kita tidak bisa melakukan segalanya tanpa uang.

Kekuatan akidah merupakan prinsip utama dalam menyelamatkan generasi milenial di tengah restorasi karakter anak bangsa di akhir zaman ini. Dengan tauhid akan melahirkan generasi milenial yang berkarakter mulia dan cerdas. Atas dasar ini, akidah mencerminkan sebuah unsur kekuatan yang mampu menyelamatkan generasi milenial dari fenomena antagonis akhir zaman menuju generasi yang berkarakter islami dan mampu membangun peradaban agama dan bangsa indonesia.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/menyelamatkan-generasi-millinial-dalam-menghadapi-fenomena-antagonis-akhir-zaman/

About JuaraWebSMK

Check Also

#25 3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an

“3 Golongan yang Mau Mengamalkan AL-Qur’an”   Disampaikan oleh Ust. Musholim Thohir, S.Ag, dari SMK …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *