Categories
Artikel Uncategorized

#11 Sholat sebagai Episentrum Kehidupan

MEREPOSISI SHOLAT : Sebagai Episentrum Kehidupan

 

Oleh : Diah Umami, S.Pd.I

GPAI SMAN 3 Kota Pasuruan

Ketua MGMP PAI SMA Kota Pasuruan

 Setelah sekian lama mengamati, kumandang adzan yang terdengar nyaring di telinga,

dzuhur misalnya, tak menggerakkan hati untuk bergegas menyambutnya.

Kesibukan yang menyita perhatian, seolah menjadi argumen klasik yang dimafhumkan.

Cukuplah dengan menghentikan aktifitas sejenak, menundukkan kepala seraya menjawab lantunan adzan dan diakhiri dengan do’a, hati terasa lega. Cukup. Kemudian aktifitas kembali berjalan seperti semula. Sedangkan Sholat, bisa dilakukan nanti saja.

 

Sholat ditandai dengan terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, yang sebelumnya didahului dengan ‘Aamul Huzni, Tahun Kesedihan. Tahun dimana Nabi Muhammad SAW ditinggalkan oleh dua orang terdekat beliau, Siti Khadijah dan Abu Thalib. Dua orang yang selalu mendukung, membela, melindungi dan mengorbankan segalanya untuk perjuangan dakwah Islam. Dengan kepergian dua orang tersebut, yang diikuti dengan peristiwa  Isra’ Mi’raj, seolah Allah SWT ingin menunjukkan bahwa tempat bersandar, tempat berlindung yang paling kokoh dan abadi hanyalah Allah semata.

Sedangkan cara yang paling utama untuk senantiasa berada dalam lindungan dan mendapat pertolongan-Nya adalah Sholat.Walaupun semua muslim telah mengetahui bahwa hukum Sholat adalah wajib, keharusan yang tak bisa ditawar, penyikapan seorang muslim terhadap sholat, cukup beragam.

Secara garis besar dan secara kasat mata, setidaknya terdapat 4 model penyikapan terhadap Sholat. Pertama, Sholat sebagai beban. Dianggap beban, maka terasa berat, sehingga seringkali ditinggalkan. Tanpa penyesalan. Kedua, Sholat sebagai kewajiban. Sholat memang tetap dilaksanakan, hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban. Cepat dan cekatan. Tak ada istilah : Sholat di awal waktu dan berjama’ah. Ketiga, Sholat sebagai kebutuhan. Karena merasa butuh, maka selalu berusaha memenuhi. Berusaha untuk selalu sholat sesuai tuntunan, di awal waktu secara berjama’ah. Tak pernah ada sholat yang tertinggalkan dengan sengaja. Keempat, Sholat sebagai rasa syukur. Model sholat para nabi. Sholat di awal waktu dan berjama’ah, serta beragam sholat sunnah juga ditunaikan dengan istiqamah sebagaimana sholat fardlu. Lama dan nikmat.

Keberagaman penyikapan terhadap sholat, tak bisa dilepastangankan dari faktor-faktor yang mempengaruhi perjalanan hidup seorang muslim. Diantaranya adalah keluarga. Keluarga sebagai Madrasah Pertama, sangat berpengaruh dalam pengenalan akidah, akhlaq dan ibadah. Semakin kental tuntunan agama dikejawantahkan dalam keluarga, semakin meresap tuntunan tersebut dalam aktifitas keseharian, semenjak kecil hingga dewasa. Faktor lain yang mempengaruhi penyikapan seorang muslim terhadap sholat, adalah jenjang pendidikan. Jika jenjang pendidikan yang ditempuh, memiliki porsi pendidikan agama yang mencukupi, baik melalui pendidikan formal maupun non formal, maka akan membekaskan cukup lekat dalam memori dan akan berpengaruh pada cara hidup yang dipilih.

Faktor berikutnya, yaitu lingkungan. Lingkungan pergaulan maupun lingkungan pekerjaan. Faktor lingkungan bisa menjadi faktor penentu bergeraknya arah penyikapan seorang muslim terhadap sholat. Bisa jadi, seorang muslim yang hidup dengan didikan keluarga yang kental tuntunan agama, tapi lingkungan pergaulan atau lingkungan pekerjaannya memiliki penyikapan yang berbeda, maka ia pun akan cenderung mengikuti penyikapan lingkungannya. Yang terakhir adalah faktor pengalaman spiritual. Faktor yang terakhir tersebut tidak akan dialami oleh semua muslim, karena tak banyak yang berkesadaran diri menjalani prosesnya.

Disadari atau tidak, saat ini kita hidup di sebuah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tapi dengan mayoritas pemahaman keagamaan yang kurang memadai. Sebuah negeri yang konon, maaf, pas dan klop dengan penggambaran ungkapan “Al-Islamu Mahjuubun bi al-Muslimiin”. Keindahan tuntunan Islam dikaburkan oleh perilaku umat Islam sendiri. Bahkan akhir-akhir ini cenderung semakin mengarah pada  “Al-Islamu Marduudun bi al-Muslimiin”. Agama Islam diingkari oleh umat Islam sendiri. Dengan baragam contoh nyata, yang kita takkan bisa berhenti dan selesai menuliskannya.

Mereposisi (meletakkan kembali) Sholat sebagai Episentrum (baca : pusat) kehidupan bagi seorang muslim, bukanlah sebuah hal yang mudah, semudah membalik telapak tangan. Terlebih jika memiliki pergaulan yang heterogen. Butuh tenaga ekstra untuk memulai, membiasakan diri dan mengistiqamahi. Apapun hasilnya nanti, yang terpenting adalah ketetapan hati untuk pembenahan diri. Diawali, diiringi dan diakhiri dengan keberserahan diri. Agar seorang muslim tergerak untuk melakukan pembenahan diri, maka bukan sekedar pengetahuan yang perlu terus di up grade, tetapi justru yang utama adalah pemahaman. Pemahaman tentang keutamaan Sholat dan pengaruhnya terhadap kualitas kehidupan.

Pengaruh Sholat terhadap kualitas kehidupan seorang muslim, dapat ditinjau dari 2 (dua) dimensi, yaitu :

  1. Dimensi Spiritual, yaitu dimensi yang berhubungan dengan tinggi rendahnya jiwa spiritual seorang muslim. Dalam dimensi tersebut, Sholat bermakna sebagai :

a).   Penghibur jiwa, berdasarkan hadits riwayat An-Nasa’i dan Ahmad, Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Dijadikan kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam ibadah shalat”.

b).   Penggugur dosa, berdasarkan hadits riwayat Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : “Bagaimana pendapatmu jika di depan pintu rumahmu ada sungai, lalu Engkau mandi sehari lima kali? Apakah tersisa kotoran di badannya?. Para sahabat menjawab :

Artinya: “Tidak akan tersisa kotoran sedikit pun di badannya”.
Rasulullah SAW pun bersabda :

Artinya: “Itu adalah permisalan untuk shalat lima waktu. Dengan sholat lima waktu, Allah SWT menghapus dosa-dosa (kecil)”.

c).   Permohonan do’a, Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Al Baqarah ayat 45 :

Artinya : “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

d).   Kebaikan dan pahala yang besar, berdasarkan hadist riwayat Ahmad, dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, Nabi Muhammad SAW mengingatkan tentang sholat pada suatu hari, kemudian berkata :

Artinya: “Siapa saja yang menjaga sholat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan siapa saja yang tidak menjaga sholat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf”.

e).   Penentu baik buruknya amal yang lain, berdasarkan hadits riwayat At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad bersabda :

Artinya : “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah Sholatnya. Maka jika Sholatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika Sholatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi”.

  1. Dimensi Sosial, yaitu dimensi yang berhubungan dengan interaksi sosial antar makhluk hidup. Ditinjau dari dimensi sosial, Sholat mengajarkan banyak hal bagi kehidupan seorang muslim, diantaranya adalah :
  2. Mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 45.
  3. Disiplin waktu, dimana sholat telah ditetapkan waktunya sehingga seorang muslim harus berusaha untuk senantiasa bisa menepati waktu sholat dan merencanakan aktifitas lainnya agar tidak berbenturan dengan waktu sholat. Hal ini berarti sholat telah mengajarkan tentang perencanaan kehidupan, baik perencanaan jangka pendek, menengah dan panjang, bahkan merencanakan kehidupan setelah kematian.
  4. PHBS (Perilaku Hidup Sehat dan Bersih), yaitu bahwa sebelum melaksanakan sholat, seorang muslim harus suci dari hadats dan najis, baik badan, pakaian dan tempat. Hal ini menunjukkan bahwa sholat benar-benar menuntut adanya perilaku yang mencerminkan kebersihan dan kesucian.
  5. Mematuhi aturan, dimana dalam melaksanakan sholat terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi, yang menjadi dasar sahnya sholat. Hal ini menuntun seorang muslim untuk senantiasa mematuhi segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di tengah masyarakat, baik yang tertulis maupun yang tak tertulis, selama peraturan tersebut tidak bertentangan dengan hukum islam.
  6. Taat terhadap pemimpin, yang menggambarkan bahwa dalam sholat, makmum harus selalu mengikuti gerakan imam, tidak boleh sekalipun melakukan gerakan yang mendahului imam apalagi sampai berbeda dengan imam. Hal ini jelas mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya selalui patuh terhadap seorang pemimpin yang telah dipilih. Akan tetapi, kepatuhan hanya berlaku jika tidak untuk bermaksiat kepada Allah SWT.
  7. Hidup bermasyarakat, dimana sholat berjama’ah memiliki nilai pahala yang jauh melampaui pahala sholat sendirian. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 43 :

Artinya : “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa sholat telah mengajarkan seorang muslim untuk senantiasa berinteraksi sosial dengan masyarakat dalam segala aspek kehidupan guna menciptakan keamanan, kedamaian dan kemakmuran bersama.

Setelah mengetahui demikian dahsyatnya posisi sholat dalam kehidupan seorang muslim, baik yang berkaitan dengan dimensi sipritual maupun dimensi sosial, rasanya tak ada alasan lagi yang bisa dijadikan dalih untuk tidak menempatkan sholat sebagai episentrum kehidupan. Semoga hidayah Allah SWT akan menghampiri kehidupan, sehingga sholat akan menjadi prioritas pertama dan utama dalam menjalani aktifitas keseharian.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/mereposisi-sholat-sebagai-episentrum-kehidupan/#more-351

Categories
Artikel Uncategorized

#10 PUASA DAN KESALIHAN INDIVIDUAL

PUASA DAN KESALIHAN INDIVIDUAL

Oleh: ABDUL MUIS, M.Pd.I

Penulis Buku “Andai Tahun Ini Ramadhan Terakhirku”

Guru PAI SMA Negeri 1 Yosowilangun

Ahmad Musthofa Bisri, pernah menulis buku dengan judulKesalihan Individual dan Kesalihan Sosial.Buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan beliau, yang menceritakan hal ihwal kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kejadian ringan yang ngurusi hubungan kita dengan tetangga, dan orang-orang terdekat, sampai pada urusan agama dan negara kita tercinta.

Semua diceritakannya dengan bahasa ringan dan sindiran. Sehingga siapapun yang membacanya akan langsung merasa diingatkan, ditegur untuk evaluasi diri dan segera memperbaiki diri. Membaca buku ini akan mengajarkan kepada kita dampak dari sesuatu yang kita lakukan dalam hidup, dampak (akibat baik) yang seharusnya tumbuh dan berkembang dalam diri sehingga menular dan terasa bagi lingkungan sekitar (orang lain).

Puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan, adalah sarana ibadah wajib yang mutlak dan langsung bersumber dari perintah Allah dalam Alquran. Ada syarat dan rukun yang harus dipenuhi sehingga puasa yang dilakukan tidak sia-sia, agar puasa yang kita lakukan sah dan berpahala.

Sejatinya, orang yang berpuasa (dan tentu ibadah-ibadah selainnya), adalah sarana menempa diri di dunia, agar menjadi pribadi yang baik, pribadi yang muhsin, muttaqin, pribadi yang menghadirkan kenyamanan dan rasa aman bagi siapapun yang bersamanya.

Ada satu kisah menarik dalam buku yang ditulis oleh Fuad Abdurrahman, tentang sahabat nabi yang bernama Abu Dujanah. Nama asli Abu Dujanah adalah Samak bin Kharsyah. Dia adalah pemegang pedang Rasulullah pada perang Uhud. Ada satu kebiasaan aneh Abu Dujanah setiap kali ia mengikuti jamaah shalat subuh. Seketika setelah shalat subuh selesai, ia bergegas buru-buru pulang, tidak mengikuti doa Rasulullah Saw. Kebiasaan ini ia lakukan setiap kali mengikuti jamaah shalat subuh di masjid. Hingga suatu ketika Rasulullah menegurnya.

“wahai Abu Dujanah, apakah engkau tidak butuh kepada Allah?”. Tanya Rasulullah.

“Tentu saja aku butuh kepada Allah, ya Rasulullah” Jawab Abu Dujanah.

“Tetapi mengapa kau tidak diam dulu sampai tuntas doaku”?.

“Maafkan aku ya Rasulullah. Aku ada keperluan”.

“Apa keperluanmu?”.

Sejenak Abu Dujanah terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Rasulullah.

Sejurus kemudian ia menuturkan, “ya Rasulullah, rumahku berdekatan dengan rumah tetanggaku. Di rumahnya, ada sebatang pohon kurma yang condong ke rumahku. Jika angin berhembus malam hari, buah kurma yang matang berjatuhan di halaman rumahku. Bila anak-anakku bangun pagi dan merasa lapar, mereka akan makan apa yang mereka lihat di halaman rumah. Karena itulah aku bergegas pulang sebelum mereka bangun untuk mengumpulkan kurma-kurma itu dan memberikannya kepada pemiliknya”.

“Suatu hari, aku melihat salah seorang anakku memasukkan kurma ke mulutnya, aku mengeluarkannya dengan jariku dan kukatakan kepadanya: ‘Hai anakku, jangan membuka aib ayahmu kelak di akhirat’. Ia kemudian menangis karena merasa sangat lapar. Lalu aku berkata lagi kepadanya: ‘aku tidak akan membiarkan barang haram memasuki perutmu’. Lalu, aku segera memberikan kurma-kurma itu kepada pemiliknya”.

Mendengar penjelasan Abu Dujanah, mata Rasulullah tampak berlinang, lalu beliau bertanya siapa pemilik pohon kurma itu. Abu Dujanah menjelaskan bahwa pemilik pohon kurma itu adalah seorang munafik. Maka Rasulullah pun memanggilnya.

“Juallah pohon kurma di rumahmu itu dengan sepuluh pohon kurma di surga yang akarnya berupa intan berlian putih beserta bidadari sebanyak bilangan kurma yang matang”.

Orang munafik itu kemudian menjawab: “Aku bukan pedagang. Aku mau menjual pohon kurma itu jika kau membayarnya dengan harga yang tinggi dan kontan”.

Abu Bakar yang juga berada di majelis itu menawarnya: “Maukah pohon kurmamu itu ditukar dengan sepuluh pohon kurma di tempat yang lain?”.

Di seluruh penjuru Madinah, tidak ada pohon kurma sebaik pohon kurma itu. Si pemilik kurma mau menjualnya kerana ditukar dengan sepuluh pohon kurma. Ia lalu berkata: “Baiklah, kalau begitu, aku mau menukarnya”.

“Ya, aku membelinya” jawab Abu Bakar. Lalu, pohon kurma itu diberikan kepada Abu Dujanah.

Rasulullah lalu bersabda: “Aku akan menaggung penggantinya, wahai Abu Bakar”. Tentu saja Abu Bakar dan Abu Dujanah merasa senang dengan ucapan Rasulullah.

Orang munafik itu pulang ke rumah, dan berkata kepada istrinya, “Sungguh, kita telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar hari ini”.

Lalu ia menceritakan apa yang barusaja terjadi. “Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang ditukar dengan satu pohon kurma di samping rumah ini untuk selama-lamanya. Kita masih bisa makan kurma yang jatuh dari pohon kurma itu dan aku tidak akan mengembalikan sedikitpun kepada pemiliknya”.

Malam harinya, ketika Abu Dujanah tidur, dengan kuasa Allah pohon kurma itu berpindah ke samping rumah Abu Dujanah. Keesokan harinya, orang munafik itu terkesiap heran melihat pohon kurma itu tidak lagi berada di samping rumahnya. Inilah mukjizat Rasulullah. Kekuasaan Allah lebih besar dari itu semua.

Kisah Abu Dujanah dan orang munafik ini mengajarkan kepada kita bahwa ibadah yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan ikhlash mengharap ridha Allah, akan melahirkan kesalihan diri, kesalihan individu yang nilainya lebih tinggi dari apapun. Ibadah yang kita lakukan, puasa yang kita kerjakan, sejatinya meningkatkan semangat kita dalam beribadah.

Kesalihan individual yang tercermin dalam puasa dapat berupa kemampuan diri mengendalikan hawa nafsu. Semua kita tahu, bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, hawa nafsu.

Mbah Moen pernah dawuh begini: “puasa adalah satu-satunya ibadah yang berfungsi untuk memecah syahwat, penolong supaya tidak menjadi budak-budak keinginan, pembantu hati kita agar wusul kepada Allah, serta penjaga agar kita tidak menjadi seperti hewan ternak atau lebih tersesat dari hewan yang tersesat”.

Sesederhana seperti ini misalnya, ketika kita berpuasa di hari pertama, menjelang berbuka, beraneka macam ragam hidangan tersaji di meja makan, ada kolak pisang, es teh, roti bakar, pisang coklat, aneka macam buah, minuman segar, minumah hangat, sampai pada makanan berat dengan lauk yang beraneka ragam dan rasa. Semua tersaji rapi dan menggoda selera.

Siapa yang tak tergoda melihat sajian lezat yang dihidangkan ini? Setiap kita yang berpuasa, pasti akan tergoda dan ingin rasanya melahap semua makanan yang ada. Di sinilah sebenarnya tantangan itu hadir. Nafsu yang menggelora dan menumpuk dalam diri, mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu di luar batas wajar.

Orang yang berlebihan makan saat berbuka, tentu akibatnya tidak baik, dampaknya akan terasa malas untuk melaksanakan ibadah berikutnya (shalat berjamaah hingga tarawih). Tubuh akan terasa lemas karena terlalu kenyang, badan akan terasa lebih berat dari biasanya karena makanan yang menumpuk dalam perut.

Berbeda dengan mereka yang mampu mengendalikan nafsunya. Makan makanan yang disajikan dengan tidak berlebihan, mencicipi beberapa saja karena ingin merasakannya, tidak makan berlebihan, dan lain sebagainya. Mereka mampu mengendalikan dorongan nafsu untuk makan dengan porsi yang lebih besar. Sehingga dampaknya ibadah berikutnya dapat dilakukan dengan mudah, penuh semangat dan khusyu’.

Inilah gambaran paling mendasar, bagaimana kemudian puasa menghadirkan kesalihan individu, kesalihan dalam diri sehingga berdampak pada kesalihan sosial (dampak kepada lingkungan).

Maimoen Zubair atau yang kita kenal dengan Mbah Moen pernah berpesan begini: “Termasuk wong seng nggak nduwe adab karo Pangeran kui, Cung, wong seng angger ndungo langsung njaluk opo sing dikarepi, tanpo basa-basi muji Pangeran ndisek, tanpa wasilah nganggo salah sijine Asmaul Husnane Pangeran, tanpo wasilah karo Kanjeng Nabi ndisek, senengane langsung njaluk opo sing dikarepi”.(termasuk orang yang tidak memiliki adab terhadap Allah itu, Nak, yang kalau berdoa langsung meminta apa yang diinginkannya tanpa memuji Allah terlebih dahulu, tanpa berwasilah menggunakan salah satu Asmaul Husna-Nya, tanpa berwasilah kepada Nabi terlebih dahulu, sukanya langsung meminta apa yang diinginkan).

Dawuh Mbah Moen ini jelas memberikan pesan penting kepada kita, bahwa di saat seseorang sedang terpuruk, jatuh terjerembab, membutuhkan sesuatu untuk dirinya (dan mungkin keluarganya), memiliki misi dan keinginan tertentu, ia akan otomatis mendekat kepada Allah dengan caranya. Meminta pertolongan-Nya dengan langsung menyampaikan apa yang menjadi keinginan dan nafsunya, tanpa pernah berfikir apakah ia layak meminta, bukan pula berfikir apakah ia pantas menerima dan pantas diberi.

Hamba yang memiliki kesalihan individual tentu akan berfikir seribu kali sebelum berdoa meminta apa yang menjadi keinginannya kepada Allah.

Hamba yang memiliki kesalihan individual akan merasa malu menuntut Allah untuk segera mengabulkan apa yang menjadi impiannya.

Hamba yang memiliki kesalihan individual akan berfikir apakah ia pantas meminta dan menuntu Allah untuk segera mengabulkan permohonannya.

Hamba yang memiliki kesalihan individual akan introspeksi diri, apakah ia pantas menerima anugerah-Nya, jika dibandingkan dengan ibadah yang ia lakukan selama ini.

Begitulah puasa, mampu menlahirkan kesalihan individual yang luar biasa, yang dapat mengantarkan seseorang pada derajat dan posisi diri yang baik, sehingga introspeksi diri ia dahulukan sebelum menuntut apa yang menjadi keinginan diri. Rasa malu pada diri (juga pada Tuhannya) senantiasa dikedepankan dibanding dengan keinginan dan nafsunya memiliki dan menggapai sesuatu.

Mbah Moen mengajarkan kepada kita, bahwa semua kita seringkali mendekat kepada Allah tatkala kita memiliki kebutuhan mendesak dan cita-cita yang harus segera diwujudkan. Tanpa mau berfikir, bahwa ibadah yang kita lakukan selama ini adalah bagian dari kebutuhan kita. Harusnya, kita berfikir bahwa ibadah kepada Allah adalah kebutuhan.

Sama halnya kita butuh bertahan hidup dengan cara bekerja, makan, berinteraksi dengan orang lain. Jika kita masih berfikir bahwa ibadah adalah kewajiban, maka potensi untuk melanggar (meninggalkan) kewajiban itu terbuka dan berpeluang sangat besar. Namun, jika sebaliknya, maka ini menjadi pertanda bahwa kesalihan individual dalam diri telah lahir.

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/puasa-dan-kesalihan-individual/#more-338

Categories
Artikel Uncategorized

#3 Empat golongan yang dirindukan Surga

4 Golongan yang dirindukan Surga

 

Disampaikan oleh Bpk. Dr. H.S. Arifin, S.Ag, M.Pd, beliau adalah guru SMA Negeri Jogoroto Kabupaten Jombang dan merupakan ketua MGMP PAI SMA Provinsi Jawa Timur.

 

Sumber referensi : https://mgmppaismasmkjatim.com/4-golongan-yang-dirindukan-surga/

Categories
Artikel Uncategorized

Kajian Ramadhan Hari Kedua

 “Marhaban Ya Ramadan”

Oleh Dr. Ahmad Zayadi, M.Pd

(Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur)

 

Categories
Artikel Berita Uncategorized videos

KEGIATAN RAMADHAN SMK AL HUDA GROGOL 2020

Categories
Uncategorized

Marhaban ya Ramadhan, Keluarga Besar SMK AL HUDA GROGOL Mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1441 H

 

Matahari berdzikir,
angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu.
Semua menyambut datangnya malam Seribu Bulan.
Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa.
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Ya Allah …
Perkayalah Saudaraku ini dengan keilmuan
Hiasi hatinya dengan kesabaran
Muliakan wajahnya dengan ketakwaan
Perindahlah fisiknya dengan kesehatan
Serta terimalah amal ibadahnya dengan kelipatgandaan
Karena hanya Engkau Dzat Penguasa Sekalian Alam
Marhaban Ya Ramadhan
Mohon maaf lahir dan batin

gersang bumi tanpa hujan, gersang akal tanpa ilmu,
gersang hati tanpa iman, gersang jiwa tanpa amal …
Marhaban Ya Ramadhan
selamat menunaikan ibadah puasa
mohon maaf lahir dan batin

jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung,
jika hati seindah bulan hiasi dengan senyuman
marhaban ya ramadhan
selamat menunaikan ibadah puasa mohon maaf lahir dan bathin

Sebelum cahaya padam, Sebelum hidup berakhir,
Sebelum pintu taubat tertutup, Sebelum Ramadhan datang,
saya mohon maaf lahir dan bathin …

Categories
Artikel Berita Uncategorized

SELAMAT HARI KARTINI 21 APRIL 2020

Tak henti – hentinya aku mengucap syukur karena telah memiliki sosok ibu sepertimu
Kau rela memperjuangkan hidup dan matimu untuk melahirkanku kedunia ini
Rela menjagaku selama 9bln meski masih dalam kandungan
Dan rela menyitakan waktumu hanya untuk membesarkan dan mendidikku

Ibu.. Kasih sayangmu tak kan bertepi
Kepedulianmu selalu di hati
Kau pelipur lara yang kan abadi
Jiwaku hilang jika tanpamu
Baktiku hanya untukmu
Ketulusan hatiku kan ku lakukan hanya untuk membuatmu tersenyum
Meski lakuku selalu membuatmu sedih
Namun kau selalu mendoakan ku dalam setiap doa yang kau panjatkan
Kasih sayangmu tak kan bisa di bayar dengan uang
Kehadiranmu tak kan bisa di gantikan
Kebahagiaanmu adalah obat untuk langkah hidupku

Ibu.. kau selalu mengajarkan kebaikan untukku
Kau selalu mengingatkan ku jika ku berlaku dan berucap salah
Belaian kasihmu mampu mendamaikan hatiku
Terima kasih atas semua yang telah kau berikan pada malaikat kecilmu ini

Selamat hari ibu
Semoga Tuhan selalu menjaga ibu

Categories
Uncategorized

Info PPDB tgl 26 Juni 2019

Alhamdulillah hari ini PPDB telah mencapai 110 pendaftar.

Categories
Uncategorized

Acara Akriditasi

Acara akriditasi didahului   bersama-sama membaca Suratul Fatihah  kemudian dilanjutkan  sambutan dari Kepala sekolah dengan mengucapkan selamat datang terhadap tiem asesor .
Penjelasan dari Kepala Madrasah, bahwa MA miftahut Thollab setiap penerimaan siswa baru di awal tahun pelajaran semakin meningkat . Bukan hanya siswanya saja yang bertambah setiap tahunnya, juga prestasi di dalam lomba Kompetensi  tingkat kecamatan maupun tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Kemenag Pati.
Harapan dengan adanya akriditasi  mendapatkan nilai yang terbaik. Harapan yang terbaik untuk kesuksesan pendidikan secara umum dan khususnya penduduk setempat di sekitar MIN Dukuhseti.
Categories
Uncategorized

Hello World!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!